Where there is light, shadows lurk and fear reigns. Yet by the blade of Knights, mankind was given hope.
Ougon Kishi GARO (2005)
Tayang: TV Tokyo, 2005-2006
Episode: 25 + 1 (gaiden)
Kreator: Amemiya Keita
Pemain: Konishi Ryousei, Hijii Mika, Fujita Ray, Sato Yasue, Kyomoto Masaki, dll
Waktu kecil, saya adalah fans sejati tokusatsu--sebuah genre perfilman Jepang yang biasanya bercerita tentang pembasmi kejahatan, orang-orang yang punya kekuatan khusus dan bisa berubah jadi sosok yang kuat. Genre umumnya yaaa superhero kali ya. Saya rajin nonton Power Rangers/Super Sentai setiap minggu--bermacam seri mulai dari yang Jepang asli sampai produksi Saban, dengan Ranger Pink sebagai idola saya. Siapa sih yang nggak kenal mereka? Berhubung waktu itu belum ada internet, sudah pasti hiburan utama hanya televisi. Masih ingat kan judul-judul ini: Jiban, Winspector, Pasukan Turbo, Metaldar, Bicrossers, dan jangan lupa juga... Ksatria Baja Hitam dan Ultraman. Kalau ibu saya masih ada, beliau akan dengan senang hati bercerita tentang tingkah saya yang pura-pura jadi Kotaro Minami sang Baja Hitam.
Serial-serial tokusatsu ini, sekalipun target market utamanya adalah anak-anak, memiliki fanbase besar, semacam cult followers di kalangan dewasa--baik laki-laki maupun perempuan. Malahan, di serial Ksatria Baja Hitam (Kamen Rider) yang diproduksi mulai era 2000-an, pemerannya banyak dipilih untuk menarik perhatian kaum hawa a.k.a cowok-cowok manis nan cakep. Pemerannya juga banyak yang meniti karir dari sini. Saya juga kenal beberapa teman saya yang penggemar tokusatsu-tokusatsu ini, dan mayoritas yang saya kenal perempuan, lo.
Sekarang ini, perkembangan tokusatsu hanya saya lihat secara sekilas saat kebetulan numpang baca Majalah Anim*nster atau Adv*nce punya teman. Sekitar medio 2006, saya membaca artikel tentang another tokusatsu: GARO. Yang menarik, tokusatsu ini ditujukan untuk kaum dewasa dan di Jepang pun ditayangkan lewat tengah malam! Karena penasaran, akhirnya saya pun memutuskan untuk mencoba menonton serial ini. Artikelnya cukup menggoda iman sih. Memang tentang apa sih ceritanya?
Well, apabila diringkas, maka GARO adalah gabungan dari dunia gelap dan keras, aksi pertarungan keren yang diperankan tanpa stunt, cewek-cewek seksi dan juga jago berantem, cowok-cowok bengis bermantel panjang, dan dunia abu-abu. Tokoh baik sekalipun punya sisi buruk di sini. Oh ya, tak lupa sedikit bumbu drama romantis. A ha.
Well, apabila diringkas, maka GARO adalah gabungan dari dunia gelap dan keras, aksi pertarungan keren yang diperankan tanpa stunt, cewek-cewek seksi dan juga jago berantem, cowok-cowok bengis bermantel panjang, dan dunia abu-abu. Tokoh baik sekalipun punya sisi buruk di sini. Oh ya, tak lupa sedikit bumbu drama romantis. A ha.
The tale of the golden knight
Sebetulnya, premisnya biasa saja seperti tokusatsu pada umumnya; kebaikan melawan kejahatan. Tersebutlah di dunia antah berantah pada suatu zaman, sekumpulan monster-monster yang memakan manusia. Monster-monster ini disebut horror, dan mereka muncul di dunia manusia dengan memanfaatkan kegelapan dalam hati manusia.
Untuk membasmi horror itulah hadir Makai Knights, para ksatria rahasia yang bertugas membasmi dan mengembalikan horror tersebut ke underworld. Setiap ksatria memiliki daerah 'patroli'-nya sendiri-sendiri dan dilarang mengganggu wilayah masing-masing. Sesama ksatria dilarang saling bertarung apalagi membunuh, dan mereka juga dilarang membunuh manusia--kecuali yang sudah di'susupi' horror. Horror menggunakan media manusia atau benda, dan sekali manusia menyerahkan dirinya pada horror, ia tak akan bisa kembali menjadi manusia. Mereka dilatih menjadi ksatria sedari kecil dengan tempat training khusus. Ksatria ini diwariskan berdasar keturunan dan hanya diturunkan lewat garis keturunan laki-laki.
Setiap ksatria memiliki pendamping berupa madou, makhluk mistik yang mengambil wujud perhiasan logam yang bertugas untuk mendeteksi keberadaan horror. Selain madou yang selalu mereka bawa dan diwariskan turun-temurun, dalam pekerjaannya Makai Knights juga dibantu oleh para Makai Priest yang berurusan dalam hal mantera dan ritual; Watchdogs, yang bertugas mengawasi dan mengirimkan perintah kerja untuk para Makai Knights; dan juga ada Makai Senate, sebuah organisasi besar yang mengatur keputusan-keputusan yang terjadi dalam underworld.
Dalam membasmi horror, Makai Knight akan men-summon armor berwujud serigala. Karena memiliki unsur horror di dalamnya, mereka hanya dapat berubah selama 99.9 detik--lebih dari itu, tubuh mereka tidak akan kuat dan horror akan memakannya. Senjata yang mereka gunakan berbeda-beda, mulai dari pedang sampai tongkat. Untuk mendeteksi horror, Makai Knight juga menggunakan madou lighter -- sebuah pemantik dengan api mistik. Mata manusia yang sudah disusupi horror akan bersinar secara berbeda. Setelah membasmi horror, senjata mereka harus disucikan di tempat Watchdogs berada.
Cerita GARO sendiri berfokus pada seorang Makai Knight dengan gelar Ougon Kishi Garo (Garo the Golden Knight). Sesuai dengan namanya, wujud Garo adalah ksatria serigala emas bermata hijau. Nama Garo dikenal underworld sebagai salah satu Makai Knight terkuat dan ditakuti oleh banyak horrors. Di balik Garo, adalah sesosok pemuda bernama Saejima Kouga, seorang pemuda yang dingin dan memusatkan hidupnya untuk membasmi para horrors.
Suatu hari, ketika menjalankan tugasnya seperti biasa, darah horror yang dibasminya memercik ke arah Mitsuki Kaoru -- seorang gadis yang baru saja memulai karirnya sebagai seniman. Manusia yang terpercik darah horror akan mati dalam waktu seratus hari dengan kematian yang menyakitkan, belum lagi menjadi incaran para horror karena katanya 'rasa' mereka yang terkotori darah lebih enak--karena itu, dalam peraturan makai underworld, setiap Makai Knight diharuskan membunuh manusia tersebut.
Namun demikian, dengan alasan menggunakan Kaoru sebagai umpan, ia membiarkan Kaoru tetap hidup. Sekilas memang tampak tidak berperikemanusiaan, tapi tanpa sepengetahuan Kaoru, diam-diam ia mencari cara bagaimana menyembuhkan Kaoru, sambil tetap melindunginya dari para horrors yang mengincar. Dari sinilah cerita bergulir; usaha Kouga menyelamatkan Kaoru, manusia-manusia di balik para horrors, dan perkembangan hubungan Kouga dengan Kaoru--yep, mudah ditebak, hubungan mereka perlahan-lahan akan meningkat tensinya, hehehe.
Tak hanya horror yang menjadi tantangan Kouga sebagai seorang Makai Knight. Selain Garo, muncul juga Makai Knight lain, seorang pemuda bernama Rei dengan julukan Silver Fang Zero. Zero melanggar aturan Makai underworld dengan menantang Kouga bertarung. Tak hanya itu, para Watchdogs di wilayah Kouga menunjukkan tindak-tanduk aneh yang memunculkan kecurigaan Kouga. Kecurigaan Kouga bertambah saat Amon, seorang Makai Priest terbunuh secara misterius setelah pertemuannya dengan Kouga, yang menimbulkan kemarahan Jabi, anak gadis Amon yang juga seorang Makai Priest sekaligus teman kecil Kouga. Hal ini berkaitan dengan KIBA, seorang Makai Knight yang berkhianat kepada kegelapan, dan Messiah, horror terkuat dalam sejarah. Dan jangan lupa, Kouga juga menghadapi tantangan dari dalam dirinya sendiri, yang berhubungan dengan keinginannya untuk menjadi lebih kuat.
Nah, bagaimana Kouga menghadapi semua itu? Silakan ditonton saja deh, yang berminat bisa mengunduh di Tv-Nihon. Disarankan sih unduh lewat torrent saja, supaya nyaman. Berikut ini sedikit penjelasan tentang tokoh-tokohnya, dengan sedikit spoiler di sana-sini.
Within realm of GARO
Saejima Kouga, Sang penyandang titel GARO saat ini, seorang pemuda berusia 25 tahunan. Dia tinggal di sebuah mansion ala barat, hanya dengan butler-nya sejak kecil yang bernama Gonza. Orang tua Kouga sudah meninggal sejak kecil; Ibunya adalah seorang Makai Priest, dan ayahnya, sang Ougon Kishi sebelumnya, meninggal karena dimakan oleh horror. Karena itulah Kouga tumbuh menjadi sosok yang dingin dan memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya sebagai seorang Makai Kishi. Selain bekerja membasmi horror, kegiatannya hanya berkisar pada berlatih, berlatih, dan berlatih. Hmmm, Bruce Wayne much? Except Kouga's no playboy after all. He's kinda derp actually. Oh, dan sampai sekarang, saya masih penasaran dari mana dia dapat duit--dia nggak pernah kelihatan sedang mengatur bisnis atau yang semacamnya kecuali kalau membelah-belah horror itu menghasilkan uang.Kehebatan Garo dikenal di seantero Makai Underworld sebagai salah satu Makai Knight terkuat. Dalam menjalankan tugasnya, Kouga dibantu oleh Zaruba, sebuah madou ring yang ceplas-ceplos. Senjata utama Kouga adalah sebilah pedang panjang dari material khusus bernama soul metal. Saat berubah, pedangnya ikut berubah juga menjadi lebih besar. Saat ia berhasil membasmi seratus horror, Kouga mendapatkan Gouten, semacam kuda mistik yang juga membantunya dalam bertarung.
Meskipun sifatnya anti sosial, sebetulnya dia baik hati (literally the Jerk with a heart of gold, haha). Pertemuannya dengan Kaoru membawa banyak perubahan dalam kehidupannya, terutama dari sisi emosional. Berawal dari seorang yang super stoic dan cuma kenal kata 'bertarung', ia belajar untuk lebih menghargai orang dan mengekspresikan perasaannya.
Kouga diperankan dengan baik oleh Konishi Ryousei (nama lahir: Konishi Hiroki), aktor yang juga dikenal dengan karirnya di teater musikal--yang waktu itu berusia 23 tahun. Peran ini membuat karirnya melejit. Di seri ini, aktingnya masih agak kaku, namun berhubung karakter Kouga memang kaku, ya jadinya tidak begitu kelihatan. Selain berakting, ia juga seorang penyanyi.
Mitsuki Kaoru, Gadis berusia 22 tahun yang berjuang untuk menjadi seniman. Tubuhnya terpercik darah horror dan ditakdirkan untuk mati dalam waktu seratus hari. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak kecil. Almarhum Ayahnya adalah seorang ilustrator, yang ia benci karena terlalu tenggelam dalam pekerjaannya sehingga melupakan ia dan ibunya. Ayahnya juga pengarang sebuah buku bergambar yang sudah dicetak, namun tak urung diterbitkan--karena tak memiliki halaman terakhirnya. Salah satu obsesi Kaoru adalah mengungkap apa misteri buku itu; sebuah buku yang bercerita tentang seorang ksatria berbaju emas.Kaoru sedang mempersiapkan pameran pertamanya ketika ia bertemu dengan Kouga. Ia terkejut saat melihat Kouga berubah menjadi ksatria berbaju emas--persis seperti yang ada di buku bergambarnya. Belum selesai kekagetannya, ia sudah ditodong lagi oleh sosok tersebut. Setelah itu, pertemuannya dengan Kouga juga masih berlanjut di berbagai tempat--sikap Kouga yang egois dan tidak ramah membuatnya kesal, namun perlahan ia mengenal Kouga lebih jauh, dan memahami mengapa sikapnya seperti itu.
Sebagai seniman, Kaoru belum banyak menghasilkan uang; karena itu ia punya banyak kerja sambilan, mulai dari pelayan sampai pengantar barang. Awalnya ia tinggal di sebuah kamar sewaan kecil, namun karena satu dan lain hal, akhirnya ia pindah dan tinggal di salah satu kamar di rumah Kouga. Oh ya, jangan makan masakan Kaoru atau kau akan berakhir di rumah sakit.
Kaoru diperankan oleh Hijii Mika yang seusia dengan Konishi. Kayaknya nggak ada lagi deh yang cocok untuk peran Kaoru selain dia. Meskipun di sini peran yang dia mainkan lemah lembut, dia juga bertanggung jawab atas beberapa adegan laga dan melakukannya dengan baik.
Suzumura Rei, Pemuda berusia 20 tahun yang menyandang titel ZERO, the silver fanged knight. Menjaga wilayah bagian barat, namun ia merangsek masuk ke wilayah Kouga dan menantangnya bertarung. Dahulu, ia dikenal dengan nama Ginga, dan ia adalah anak angkat dari penyandang titel Zero sebelumnya. Ayah angkat dan tunangannya dibunuh secara tragis oleh seorang Makai Knight. Salah satu obsesinya adalah mengetahui dan membunuh Makai Knight yang telah membunuh keluarganya, sekalipun itu melanggar peraturan.Kalau Garo berwarna emas, maka saat berubah menjadi Zero, Rei adalah serigala perak. Ia bertarung dengan dua bilah pedang soul metal yang juga bisa bergabung menjadi satu. Rei dibantu oleh Silva, sebuah madou amulet yang (sepertinya) berjenis kelamin perempuan dan juga pencemburu berat, terutama kalau Rei dekat-dekat dengan perempuan lain. ;)
Berbanding terbalik dengan Kouga, Rei adalah sosok yang ceria dan agak playboy. Pertama kali bertemu Kaoru, dia langsung mengajak gadis itu kencan, bahkan pernah mencoba menciumnya. Namun di balik itu, sesungguhnya Rei adalah seorang sinister yang hanya mengenal dendam.
Rei diperankan oleh aktor blasteran Perancis-Jepang, Fujita Ray. Selain berakting, ia juga anggota dari band beraliran metal bernama DUSTZ. Saat bermain di seri ini, ia baru saja lulus SMA dan masih berusia 17 tahun.
Kurahashi Gonza, Butler keluarga Saejima yang juga pengasuh Kouga sejak kecil. Satu-satunya keluarga bagi Kouga. Gonza memahami dengan baik pembawaan Kouga yang dingin, dan selalu berharap yang terbaik untuk anak majikannya itu. Gonza tidak memiliki kemampuan apa pun yang berkaitan dengan makai underworld, tapi ia sedikit mengerti tentang ritual dalam kehidupan Makai Knight.
Ia sering memberikan pengertian pada Kaoru saat gadis itu mengomel karena sikap Kouga yang sulit dimengerti. Gonza berharap kehadiran Kaoru akan membawa perubahan positif bagi Kouga--dan ya, harapannya itu sepertinya perlahan jadi kenyataan.
Jabi, Anak dari Makai Priest Amon yang terbunuh. Ia adalah teman kecil Kouga dan seorang Makai Priest yang handal. Berbeda dengan Kaoru yang naif, Jabi adalah gadis yang agresif dan juga tangguh dalam bertarung. Sepertinya ia juga punya perasaan khusus pada Kouga.
Sato Yasue memerankan Jabi dengan keren--saya suka tokoh ini. Karir awalnya adalah penari, mungkin karena itu juga gerakannya saat bertarung sangat luwes dan cantik. Hehehe.
Eastern Watchdogs, Watchdog wilayah Kouga. Berwujud tiga orang anak kecil bernama Ker, Ber, dan Ros yang kelihatannya punya satu pikiran. Kouga tak begitu menaruh percaya pada mereka, apalagi saat mereka mulai bertindak mencurigakan dan mencoba mengadu domba Kouga dan Rei. Diam-diam punya rencana misterius.
Kodama, Seorang butler yang berjaga untuk Ker, Ber, dan Ros. Tak pernah bicara. Tugasnya adalah menyucikan pedang yang dipakai Kouga setelah membasmi horror. Diperankan oleh Mark Musashi.
Karune Ryuuzaki, Seorang psikolog yang memonitor Kaoru sebagai bahan risetnya, dan Kaoru dibayar untuk itu. Seorang psikolog terkenal yang sering muncul di televisi dan juga menulis buku. Pemerannya adalah Kyomoto Masaki, penyanyi serta pengaransemen theme song untuk GARO.
KIBA, Seorang Makai Knight yang membelot ke kegelapan dengan menyerap horror sebanyak mungkin untuk mencapai kekuatan absolut. Kekuatannya diduga sebanding dengan Garo. Salah satu tujuannya adalah membangkitkan Messiah, horror tertua dan terkuat dalam sejarah, ke dunia manusia.
What I love about this series
Meskipun ditayangkan lewat tengah malam, GARO tetap menarik perhatian para penggemar toku series, terutama yang sudah dewasa. Seperti yang sudah saya jelaskan, kebanyakan toku dibuat untuk anak-anak, dengan jalan cerita yang simpel dan tingkat kekerasan yang tidak berlebihan. Sejak awal, GARO sama sekali meninggalkan pakem-pakem tersebut. Kalau menurut saya sih, ini kayak Batman + Tutur Tinular + Ksatria Baja Hitam, hahaha. Batman versi film bioskop juga ditujukan untuk kalangan dewasa, bukan?
Untuk ukuran toku yang biasanya cuma gebak-gebuk sebentar terus berubahnya lama dan mendadak musuhnya kalah, level GARO memang di atas itu. Sequence perubahan wujud yang biasanya lama dengan segala tetek-bengeknya, dipotong jadi hanya beberapa detik saja, tanpa macam-macam gaya. Untuk adegan pertarungan, Kreatornya, Amemiya Keita, mengharuskan para pemeran beradegan laga tanpa stuntman. Selain itu, karena para Makai Knight hanya bisa berubah wujud selama 99.9 detik, alhasil mereka lebih banyak berantem dalam wujud manusia. Saat pertarungan dalam bentuk armor, mayoritas adegan dibuat dengan CGI karena sulit bila menggunakan stunt berkostum, salah satu yang juga membedakan serial ini dengan toku lainnya.
Ini lho yang bikin keren--tiap episode kita bisa lihat adegan pertarungan yang koreografinya ciamik, dan diperankan langsung oleh para aktornya. Mayoritas pertarungan berupa pertarungan tangan kosong dan permainan pedang, bukan pertarungan berkostum yang biasa ada di toku untuk anak-anak. Adegan pertarungannya juga dibuat dengan artistik--misalnya, di episode pertama, Kouga bertarung dengan sosok-sosok dalam jubah merah darah yang hilang-timbul dari pigura lukisan. Jangan dibandingkan sama film holiwut, lha wong ini acara TV mingguan kok. Tapi kalau perbandingannya dengan toku, wah jauuuh ini mah. Judul GARO ini juga adalah pionir untuk tokusatsu yang di-market untuk kalangan dewasa. Setting GARO realm sejak awal diset gelap dan mirip-mirip Gotham City. Motif para manusia yang disusupi horror punya latar belakang yang kadang agak quirky, malah psycho. Oh, dan desain para horror juga keren dan sangat mendetail.
Nudity juga muncul cukup banyak di seri ini--tapi, tidak berlebihan. Sekali lagi, kalau dibandingkan dengan film barat sana, tergolong biasa. Tapi kalau episode pertama saja sudah disodorkan horror berwujud wanita topless sih agak-agak gimana yaaa haha. Ini juga sih yang menjadi salah satu ganjalan saya kalau mau nonton. Ada beberapa adegan yang menurut saya tak perlu nudity pun tak akan mengganggu cerita, tapi tetap muncul. Yah, mungkin ini untuk menegaskan bahwa GARO bukan untuk anak-anak? Entahlah.
Yang menonjol dari serial ini juga adalah sisi romance yang menjadi plot penting--malah termasuk yang utama. Hubungan Kouga dengan Kaoru adalah salah satu yang membuat ceritanya berjalan. Namun sayangnya, eksekusi plot utama ini malah kurang 'dewasa', menurut saya. Episode biasa sanggup memberikan background story dengan tema kompleks, tapi kalau yang ini kok agak... garing ya, malah sedikit kekanakan. Bukannya saya nggak suka sih, cuma rasanya kurang greget gitu kalau dibandingkan sama yang lain. Buat ukuran 'film dewasa', ceritanya masih terhitung sederhana. Mungkin juga karena masih ada sekuel untuk serial ini, jadi ditahan. Saya nggak akan jelasin lebih lanjut sih, silakan tonton sendiri ;)
Yang menonjol dari serial ini juga adalah sisi romance yang menjadi plot penting--malah termasuk yang utama. Hubungan Kouga dengan Kaoru adalah salah satu yang membuat ceritanya berjalan. Namun sayangnya, eksekusi plot utama ini malah kurang 'dewasa', menurut saya. Episode biasa sanggup memberikan background story dengan tema kompleks, tapi kalau yang ini kok agak... garing ya, malah sedikit kekanakan. Bukannya saya nggak suka sih, cuma rasanya kurang greget gitu kalau dibandingkan sama yang lain. Buat ukuran 'film dewasa', ceritanya masih terhitung sederhana. Mungkin juga karena masih ada sekuel untuk serial ini, jadi ditahan. Saya nggak akan jelasin lebih lanjut sih, silakan tonton sendiri ;)
Di Jepang, serial ini termasuk sukses, apalagi untuk tayangan tengah malam. Setelah GARO, penggemar juga diganjar dengan satu episode spesial bertajuk GARO Gaiden ~Smile~ , episode tentang mimpi Kaoru yang bergaya teatrikal. Lalu ada lanjutan petualangan Kouga--TV Special: GARO - The Beast of the White Night (2006) yang menghadirkan seorang Makai Knight lain, Tsubasa Yamagatana the White Knight; KIBA Gaiden: GAME (2009) yang menceritakan sisi lain dari tokoh antagonis utama, KIBA; serta GARO: Red Requiem the movie (2010) yang dirilis dalam 3D. Yang paling baru adalah sekuel serta penutup dari serial GARO, yang baru saja tamat bulan Maret 2012, bertitel GARO ~Makai Senki~ (2011). Yang menyenangkan, semua pemerannya tak berubah. Bahagianyaaaa.
After all, this is a quite great series. Not the best, tapi buat saya yang terakhir kali nonton tokusatsu adalah sewaktu SD, serial ini keren dan bahkan berhasil buat saya jadi fans sejak 2006 sampai sekarang. Buat cowok-cowok, adegan bertarungnya sangat layak tonton, begitu juga dengan cerita dan monster-monsternya. Buat cewek-cewek, yaaa kalau anda sama seperti saya, selamat menikmati adegan pertarungan keren plus drama romantis plus pemerannya yang ganteng-ganteng, hihihi. Serius loh, nothing can beat handsome badasses kicks some serious amount of ass. Dengan tangan kosong atau pedang. Plus long coats. Dan saya juga memang penggemar cerita berpremis a Knight that Protect the Princess sih.... *jadi malu* Yes, this series is pretty cheesy, with some Japanese cinematic technique that sometimes lame, dan CG-nya juga masih Low-end meskipun ga separah Indosiar 2012 (dan seri ini dibuat tahun 2005). Tapi saya suka ini. Another guilty pleasure? Heck yeah yes.
gambar: hasil screencap pribadi.
gambar: hasil screencap pribadi.




Komentar
Posting Komentar
do some talk, folks :)