Langsung ke konten utama

What Kind of Family do You Have?

Yak itulah pertanyaan pertama saya.

Menurut Wikipedia, keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak disebut Nuclear Family (keluarga inti). Di luar itu, keluarga yang memiliki tambahan lain disebut extended family.

Saya selalu tertarik dengan keluarga -- berhubungan darah, hidup bersama, dan dekat. Dengan beberapa pengecualian, kebanyakan keluarga selalu jadi orang-orang terdekat bagi tiap anggotanya. 'Keluarga' memang nggak harus didefinisikan dengan 'ayah dan ibu', sih; tiap orang punya deskripsi masing-masing.

Kondisi keluarga saya sudah jauh berbeda dibandingkan, sebutlah, saat saya masih TK. Selain jumlah orang yang berubah, personilnya juga berubah. Hehehe... Ah, pengen scan foto keluarga sih, tapi harus nyari dulu di tengah tumpukan. Mungkin nanti post ini akan saya edit kalau udah nemu foto-fotonya. :3

Mulai dari keluarga inti -- as usual, saya punya Ayah, yang tergolong keras, kaku, dan err workaholic alias gila kerja. Nasihat beliau yang menempel terus adalah: aim high. Sampai sekarang.

Ada Ibu, jurnalis semangat yang sering bicara random. Kalau dengan Ayah saya hanya bisa ngobrol serius (berlanjut dengan berantem), Ibu adalah sisi penyeimbang. Serandom-randomnya Ibu adalah orang yang sangat random sampe banyak banget menciptakan vocabulary yang kayaknya cuma keluarga kami aja yang ngerti maksudnya apa. :P

Ada Adik Perempuan, yang sifatnya antara mirip-ngga-mirip sama saya, usianya empat tahun di bawah saya. Dia orangnya cenderung ekstrovert dan outgoing, lebih daripada saya yang ramenya cenderung pilih-pilih. Lalu ada adik cowok yang usianya delapan tahun di bawah saya, si bungsu yang mahiwal dan kasian karena puna dua kakak cewek. Itulah susunan keluarga v 1.0, karena memang tadinya kami 'direncanakan' sebagai tiga bersaudara saja.

Tapi, manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan, iya toh :) Si kecil bungsu, adik cowok #2, lahir di tahun 2005. Beda usianya dengan saya empat belas tahun. Dia lahir dengan beberapa keistimewaan. Istimewa karena ternyata Allah masih mempercayakan satu anak lagi untuk dibesarkan saat Ibu mulai sakit-sakitan. Istimewa karena dia bisa lahir relatif sehat ketika Ibu mulai menjalani kehidupan dibayangi operasi dan obat-obatan. Istimewa, dan untuk keistimewaan itu, si bungsu baru ini harus menjalani dua operasi kala usianya belum juga genap setahun.

Lalu Ibu meninggal tahun 2007--berefek pada si bungsu yang akhirnya diasuh oleh keluarga adik Ayah di luar kota. Berkurang dua anggota sekaligus, menyisakan Ayah, saya, dan dua orang adik; keluarga versi 2.0 minus.

Tiap keluarga punya masa ups-and-downs masing-masing, dan mungkin ini adalah salah satu dari downs-nya. Sepi, tertekan, sedih. Sedih karena ditinggal Ibu, orang yang paling dekat buat saya waktu itu; sepi karena Ayah saya yang gila kerja tetap (dan makin) gila kerja; lalu ada perasaan hopeless, tertekan, karena saya nggak bisa mempertahankan si bungsu yang masih kecil untuk tetap bersama-sama kami. Karena saya memang belum mampu, nggak bisa apa-apa.

Tapi, dari situ, ada banyak hikmah yang bisa diambil. Saya dan adik-adik jadi dekat. Bukannya sebelumnya sama sekali nggak dekat, tapi makin dekat karena saya perlahan-lahan bisa melihat lebih banyak detail. Detail yang selama ini terlewatkan karena sudah diambil oleh Ibu dan saya merasa nggak perlu memperhatikan. Dari keluarga v2.0 minus ini, selain belajar ngatur uang belanja, beres-beres, dan masak (lol), saya juga belajar mengenal lebih jauh anggota-anggota keluarga yang lain, dan (akhirnya) merasa bertanggung jawab dengan apa yang saya katakan, lakukan, contohkan, akan berpengaruh banyak pada pertumbuhan kedua adik saya yang masuk masa tweens itu.

Ada yang hilang, ada yang datang.

Ada revolusi baru di keluarga v2.0 ini, sebut aja versi 3.5 karena berubahnya lumayan banyak, haha. Ayah saya menikah lagi, ada tiga orang bertambah. Saya dapat dua orang adik cowok tambahan, dan somehow, akhirnya saya bisa ngerasain gimana rasanya punya adik yang lebih jangkung dari diri sendiri. Hua ha ha ha. Saya nggak begitu biasa dengan perubahan. Saya juga yang paling bermasalah saat perubahan itu datang. Tapi dengan bantuan orang-orang di sekitar, mungkin saya... berhasil? Kind of? ;p

Dan muncul keluarga v4.0! :D Meet the newest girl on the block, Salma Suci Airina!

Holding a teddy bear. Isn't she cute? :3

Look, she smiles at you! :D

Lebih banyak orang lebih merepotkan, tapi juga menyenangkan. Salah satu hal yang paling saya suka saat Idul Fitri adalah segala rupa orang tumpah ruah di satu rumah; bayangkan kalau ini terjadi di rumah setiap hari. Ada bayi, memang ricuh, tapi karena dia lucu, dimaafin deh :') Rumah yang sepi ramai lagi, ada mainan baru, ada temen ngobrol....

Ada yang pergi, ada yang datang. Kehilangan Ibu, sosok penting dalam kehidupan saya, sangat nggak mengenakkan, tapi dari situ juga saya bisa dapat banyak pengalaman dan hal baru, things I've treasured for myself, sesuatu yang unik, yang hanya diri sendiri yang bisa merasakan.

Every family has a different story. What's yours?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

being single

Yak, topik cinta-cintaan kembali setelah sekian lama. Aih. Mentor saya, senior di kampus, baru-baru ini menikah. Selamat atas pernikahannya ya Teh Arindo, semoga bisa jadi keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah dan dikaruniai anak-anak yang terdepan dalam prestasi. :) Karena yang menikah ini teman kuliah, jadilah topik penggalauan kembali mewabah di lingkungan pergaulan saya. Jadi ingat. Kemarin saya naik angkot pulang, seperti biasa. Kalau naik angkot, lama perjalanannya bisa sekitar dua jam. Maklum Bandung coret. Seringnya sih saya tidur :P Di tengah perjalanan, angkot ngetem di depan sebuah SMP. Beberapa saat kemudian, naiklah empat orang anak SMP. Dari pembicaraannya, saya bisa tahu mereka masih kelas tujuh.  Ngobrolnya seru, khas anak cowok, saling ejek dan rebutan hape karena main game entahlah apa saya nggak tahu. Satu anak ada yang terlihat jangkung kurus, berkacamata, gayanya pecicilan, pokoknya ngeselin, tapi lucu. Intinya anak itu mengesalkan, tapi saya...

Saya Kangen Jatuh Cinta

Ingin jatuh cinta sama orang deh rasanya. Ngeceng orang salah. Lagi ngga ngeceng eh taunya galau juga. Hmmm. Saya kangen jatuh cinta. Bukan orangnya, karena kalo sekarang ditanya saya lagi jatuh cinta sama siapa, saya ga akan bisa jawab--karena sumpah, nggak tahu. Ditanya rang mati kutu bukannya ngga mau ngasih tahu, tapi karena emang ga ada =..= Yonghwa dan Seohyun. Dua orang ini kelewat manis sampe ngga tahan tiap nonton aaa.

10.10.10

TUMBLR . TWITTER . WEBSITE Pasar Seni ITB keSEPULUH. Tanggal SEPULUH bulan SEPULUH tahun duaribuSEPULUH. Hanya berlangsung SEPULUH jam saja!