Langsung ke konten utama

Someday, There Will be Those Days When....






Bukan gara-gara Amy Winehouse sih saya bikin postingan ini... emmm... tapi, yah, berita kematian Amy Winehouse juga bikin saya mikirin berkali-kali tentang hal ini. Akhir-akhir ini kok saya jadi suka banget kontemplasi ya. Mikirin berbagai hal dan ribet sendiri. Daripada pusing, disimpan di kepala terus, mending ditulis di blog aja, biar lega. Iya toh. Lebay juga biarin, toh blog sendiri ini. Huo huo huo. Di mana lagi bisa jadi drama queen kalo bukan di blog sendiri? :P

Satu hal yang saya takuti, di antaranya, adalah kematian.

"Padahal hanya SMS tengah malam dari provider seluler, tapi tubuh saya gemetaran karena takut isinya berita yang tak mengenakkan. Saya takut mendengar berita orang yang mati. Saya takut mati."

Ya, saya ngga akan repot-repot berkamuflase bahwa saya nggak takut dengan kematian karena semua orang pasti mengalaminya. Saya takut mati. Saya nggak punya apa-apa untuk dibawa, saya nggak punya bekal, saya takut meninggalkan dunia. Oke. Bilang saya dangkal dan mungkin juga ini karena saya banyak dosa, tapi memang begitu keadaannya. Di satu sisi lain, topik 'kematian' ini membuat saya jadi sedikit fobia. Haha. Selain takut akan kematian diri sendiri, hal yang saya takuti, tentu saja, adalah kematian orang-orang yang ada di dalam kehidupan saya.

Saya takut ditinggal. Pertama kali orang terdekat saya meninggal adalah ketika nenek angkat saya meninggal. Berikut dengan kakek angkat yang meninggal dua tahun setelahnya. Saya nggak berani melihat jenazah mereka waktu itu. Saya takut masuk ke rumah mereka sampai setahun setelahnya. Padahal, waktu itu saya sudah kelas dua SMP. Tapi saya masih childish begitu. Saya sayaaang sekali sama mereka. Tapi, waktu itu saya sedang masuk fase 'anak nakal' yang malas mengunjungi orang tua. Jadi, ya, waktu itu, saya menyesal meskipun tak ada air mata.


Lalu giliran Ibu saya. Saya nggak nangis waktu pertama kali dengar, dari sebuah telepon pukul empat pagi. Hati saya berkata aneh, bukankah kalau mendengar ada orang dekat yang meninggal, harusnya kita menangis? Tapi saya nggak nangis waktu itu, dan saya merasa berdosa. Padahal Ibu sendiri, kenapa saya nggak bisa nangis? Pada akhirnya, yang keluar hanya tangis yang dipaksakan. Badan saya lemas banget waktu mobil jenazahnya datang, tapi waktu teman-teman saya datang, saya ketawa-ketawa.

Tapi malamnya, kaki saya dingin, tubuh saya gemetaran. Saya nggak bisa ikut tahlilan waktu itu, karena saya nangis terus nggak berhenti-berhenti. Sampai muka rasanya jadi bengkak semua. Mungkin itu munculnya fase nggak bisa menerima, nggak bisa ngerti kenapa harus ada orang yang pergi selamanya.

Kematian jadi satu hal yang menakutkan. Saya benar-benar takut sama suara telepon di menjelang dini hari. Karena beberapa tahun yang lalu, saat saya mengangkat telepon, yang saya dapatkan adalah berita yang paling saya nggak mau dengar. Bahkan suara telepon yang terdengar sayup-sayup saat saya tidur--misalkan kalau saya terbangun dengan mendengar suara telepon atau ponsel, jantung saya bisa berdebar nggak karuan dengan panik yang menjalari seluruh tubuh. Bahkan meskipun ternyata isinya hanya SMS pesan iklan dari provider seluler yang saya pakai. Dan saya hanya bisa mengutuk dalam hati. Kalau mendengar telepon di atas pukul sebelas malam, mau berdering berapa kali pun, nggak akan saya angkat kecuali saya bisa tahu siapa yang nelpon. Karena saya takut.

Lebay ya?

Karena memang, semua orang pasti akan mendapatkan kematian. Nggak terkecuali saya, nggak terkecuali kamu. Ada teman yang bilang, membicarakan kematian itu tabu, karena itu bisa bikin kematian kita dipercepat/sama dengan berdoa kita ingin mati. Padahal, wajar kalau orang penasaran, bukan? Tapi, yah, saya memang masih takut dengan kematian. Kalau melihat orang-orang yang dekat dengan saya, dan emmbayangkan bagaimana seandainya mereka pergi dari dunia ini untuk selamanya, rasanya takut sekali. Apalagi keluarga saya. Saya harus bagaimana kalau mereka nggak ada? Setiap kali saya lihat uban Ayah yang makin banyak, saat saya menelepon nenek saya yang sakit, dan ulang tahun seseorang. Karena ulang tahun adalah ketika masa hidup kita berkurang satu tahun lagi.

Selamat tidur, dan doa saya malam ini, adalah semoga mati saya dan orang-orang terdekat saya nanti adalah ketika saya sudah punya cukup banyak amal untuk dibawa, saat saya sudah bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, saat saya sudah cukup banyak berbakti untuk mereka. Begitu juga dengan mereka. Karena itu, sekarang, saat saya masih banyak melakukan dosa, mohon beri waktu saya untuk memperbaiki kekurangan dan dosa itu. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

being single

Yak, topik cinta-cintaan kembali setelah sekian lama. Aih. Mentor saya, senior di kampus, baru-baru ini menikah. Selamat atas pernikahannya ya Teh Arindo, semoga bisa jadi keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah dan dikaruniai anak-anak yang terdepan dalam prestasi. :) Karena yang menikah ini teman kuliah, jadilah topik penggalauan kembali mewabah di lingkungan pergaulan saya. Jadi ingat. Kemarin saya naik angkot pulang, seperti biasa. Kalau naik angkot, lama perjalanannya bisa sekitar dua jam. Maklum Bandung coret. Seringnya sih saya tidur :P Di tengah perjalanan, angkot ngetem di depan sebuah SMP. Beberapa saat kemudian, naiklah empat orang anak SMP. Dari pembicaraannya, saya bisa tahu mereka masih kelas tujuh.  Ngobrolnya seru, khas anak cowok, saling ejek dan rebutan hape karena main game entahlah apa saya nggak tahu. Satu anak ada yang terlihat jangkung kurus, berkacamata, gayanya pecicilan, pokoknya ngeselin, tapi lucu. Intinya anak itu mengesalkan, tapi saya...

Saya Kangen Jatuh Cinta

Ingin jatuh cinta sama orang deh rasanya. Ngeceng orang salah. Lagi ngga ngeceng eh taunya galau juga. Hmmm. Saya kangen jatuh cinta. Bukan orangnya, karena kalo sekarang ditanya saya lagi jatuh cinta sama siapa, saya ga akan bisa jawab--karena sumpah, nggak tahu. Ditanya rang mati kutu bukannya ngga mau ngasih tahu, tapi karena emang ga ada =..= Yonghwa dan Seohyun. Dua orang ini kelewat manis sampe ngga tahan tiap nonton aaa.

10.10.10

TUMBLR . TWITTER . WEBSITE Pasar Seni ITB keSEPULUH. Tanggal SEPULUH bulan SEPULUH tahun duaribuSEPULUH. Hanya berlangsung SEPULUH jam saja!