Saya ini cerewet. Entah sudah berapa kali saya bilang itu. Bahkan mungkin hal itu juga yang menggambarkan kecerewetan saya, ha ha ha. Mungkin ima menit saya masih akan diam, tapi setelah itu, jangan tanya deh. Saya diam, kalau bukan karena ngantuk, ya karena benar-benar merasa nggak nyaman.
Jadi ya kumpul-kumpul sama teman adalah satu hal yang saya suka. Cerita-cerita, tukar gosip apalagi #salah. Dapat kabar baru, saling curhat, biarpun penganannya mungkin cuma keripik melempem. Bertukar cerita dan bertemu teman, itulah poinnya. Ditambah ngelawak soal sinetron-sinetron Indonesia yang lebay (ahaha ini sih hobi saya). Yang penting asyik. Kalau mau lebih asyik lagi ya tambahin karaokean.
Tapi.... sometimes, I need to be alone too, right?
Kadang, kalau tahu ada waktu, saya suka pergi ke ke tempat tenang. Di mana saya bisa sendirian. Bukan berarti saya benar-benar sendiri, tapi yaa punya personal space, lah.
Misalnya perpustakaan. Dari kecil saya paling suka kalau diajak ke perpustakaan. perpustakaan SD saya yang ehm, butut pun saya jabanin. Meskipun menjelang besar banyak orang di sekitar saya yang bilang perpustakaan itu seram dan membosankan -- terutama perpustakaan institusi, toh saya tetap suka. Saya bisa tenggelam berjam-jam di sana. Bisa melakukan apa saja. Baca buku, menulis, menggambar... atau yang nggak nyambung: merajut. Lol. Saya kuat sampai lima jam di sana. Tidurnya deh setengah atau satu jam. Yah memang sih, lantai empat perpustakaan ITB nggak terlalu menyenangkan -- cenderung panas dan pengap, tapi di sana ada buku-buku desain yang menarik. Sesuatu yang membuat saya rajin kembali lagi ke sana di antara waktu kosong.
Atau koridor masjid Salman ITB. Daerah sini memang terkenal adem dan pewe. Entah karena lingkungan atau mungkin dikaruniai Allah suasana yang menenangkan, karena itu masjid. Entahlah. Yang pasti, di sini enak banget. Ada bangku-bangku yang juga bisa digunakan sebagai meja. Hanya saja, kalau keenakan, pasti ujungnya jadi tidur. Tempat ini juga ramai sama orang-orang yang belajar bareng atau mentoring, atau malah rapat. Herannya, biarpun banyak orang, saya ga pernah merasa terganggu -- despite the fact bahwa saya mencari tempat yang tenang. Tenang itu berarti sedikit orang, no? Tapi saya suka tempat ini.
Dan tempat favorit saya terakhir adalah... taman ganesha. Jujur saya suka sekali sama konsep taman Kota. Waktu saya pertama kali membaca artikel tentang the Central Park, NYC, saya bener-bener iri. Enak sekali sebuah kota bisa punya taman seluas itu. Padahal Bandung kan kota Kembang, tapi kok tamannya sedikit ya?
Ah, tapi ya sudahlah. yang penting kan ada taman, jadi bersyukurlah Meg. Di sini banyak anak te-ka, pengemis dan anak kecil pengamen, tapi tempatnya cukup menyenangkan kalau udara segar. Semilir angin dan bau dedaunan yang segar dihirup. Kolamnya sih jangan dilihat,haha. Di sini ada beberapa kursi dan bangku. Ada colokannya, jadi bisa menggunakan notebook di sini.
Tapi saya nggak suka bawa laptop ke kampus. Berat dan nggak begitu berguna juga, karena saya lebih sering praktek. Jadi saya mengandalkan buku tulis dan pulpen. Lalu nantinya disalin ke notebook. Seperti sekarang. Ditemani headset dan walkman, dan saya pun siap berekreasi.
Begitu saja. Menghirup angin, mendengarkan lagu favorit, menulis berbagai hal yang random. Menggambar apa saja yang terlewat di kepala, semua itu bisa bikin kita rileks, bukan. Memperhatikan orang-orang: Pasangan yang sedang pacaran, geng mahasiswa yang kumpul-kumpul, pengemis dan gelandangan, pedagang kaki lima yang menghitung uangnya, keluarga kecil yang piknik kecil-kecilan.
Sebetulnya, kebahagiaan itu selalu ada -- biarpun hanya hal kecil.
Kebahagiaan itu sungguh, beterbangan dimana-mana.
Jadi ya kumpul-kumpul sama teman adalah satu hal yang saya suka. Cerita-cerita, tukar gosip apalagi #salah. Dapat kabar baru, saling curhat, biarpun penganannya mungkin cuma keripik melempem. Bertukar cerita dan bertemu teman, itulah poinnya. Ditambah ngelawak soal sinetron-sinetron Indonesia yang lebay (ahaha ini sih hobi saya). Yang penting asyik. Kalau mau lebih asyik lagi ya tambahin karaokean.
Tapi.... sometimes, I need to be alone too, right?
Kadang, kalau tahu ada waktu, saya suka pergi ke ke tempat tenang. Di mana saya bisa sendirian. Bukan berarti saya benar-benar sendiri, tapi yaa punya personal space, lah.
![]() |
| Perpustakaan pusat ITB. sumber dari kantongtehcelup.wordpress.com |
Misalnya perpustakaan. Dari kecil saya paling suka kalau diajak ke perpustakaan. perpustakaan SD saya yang ehm, butut pun saya jabanin. Meskipun menjelang besar banyak orang di sekitar saya yang bilang perpustakaan itu seram dan membosankan -- terutama perpustakaan institusi, toh saya tetap suka. Saya bisa tenggelam berjam-jam di sana. Bisa melakukan apa saja. Baca buku, menulis, menggambar... atau yang nggak nyambung: merajut. Lol. Saya kuat sampai lima jam di sana. Tidurnya deh setengah atau satu jam. Yah memang sih, lantai empat perpustakaan ITB nggak terlalu menyenangkan -- cenderung panas dan pengap, tapi di sana ada buku-buku desain yang menarik. Sesuatu yang membuat saya rajin kembali lagi ke sana di antara waktu kosong.
![]() |
| Koridor Salman ITB. sumber dari aditiarifai.wordpress.com |
Atau koridor masjid Salman ITB. Daerah sini memang terkenal adem dan pewe. Entah karena lingkungan atau mungkin dikaruniai Allah suasana yang menenangkan, karena itu masjid. Entahlah. Yang pasti, di sini enak banget. Ada bangku-bangku yang juga bisa digunakan sebagai meja. Hanya saja, kalau keenakan, pasti ujungnya jadi tidur. Tempat ini juga ramai sama orang-orang yang belajar bareng atau mentoring, atau malah rapat. Herannya, biarpun banyak orang, saya ga pernah merasa terganggu -- despite the fact bahwa saya mencari tempat yang tenang. Tenang itu berarti sedikit orang, no? Tapi saya suka tempat ini.
Dan tempat favorit saya terakhir adalah... taman ganesha. Jujur saya suka sekali sama konsep taman Kota. Waktu saya pertama kali membaca artikel tentang the Central Park, NYC, saya bener-bener iri. Enak sekali sebuah kota bisa punya taman seluas itu. Padahal Bandung kan kota Kembang, tapi kok tamannya sedikit ya?
Ah, tapi ya sudahlah. yang penting kan ada taman, jadi bersyukurlah Meg. Di sini banyak anak te-ka, pengemis dan anak kecil pengamen, tapi tempatnya cukup menyenangkan kalau udara segar. Semilir angin dan bau dedaunan yang segar dihirup. Kolamnya sih jangan dilihat,haha. Di sini ada beberapa kursi dan bangku. Ada colokannya, jadi bisa menggunakan notebook di sini.
Tapi saya nggak suka bawa laptop ke kampus. Berat dan nggak begitu berguna juga, karena saya lebih sering praktek. Jadi saya mengandalkan buku tulis dan pulpen. Lalu nantinya disalin ke notebook. Seperti sekarang. Ditemani headset dan walkman, dan saya pun siap berekreasi.
![]() |
| Taman Ganesha. sumber blogmoyo.wordpress.com |
Begitu saja. Menghirup angin, mendengarkan lagu favorit, menulis berbagai hal yang random. Menggambar apa saja yang terlewat di kepala, semua itu bisa bikin kita rileks, bukan. Memperhatikan orang-orang: Pasangan yang sedang pacaran, geng mahasiswa yang kumpul-kumpul, pengemis dan gelandangan, pedagang kaki lima yang menghitung uangnya, keluarga kecil yang piknik kecil-kecilan.
Sebetulnya, kebahagiaan itu selalu ada -- biarpun hanya hal kecil.
Kebahagiaan itu sungguh, beterbangan dimana-mana.




perpustakaan merupakan suatu tempat yang menurutku wajib kita unjungin setidaknya 2hari sekali. agar kita ini lebih mengenal dunia lewat tulisan² orang lain. :D
BalasHapusemm... buat saya, perpustakaan itu tempat tidur #plak eh, tapi juga tempat istirahat. asal tempatnya asik :3
BalasHapus