Hari ini, setelah browsing pagi lewat ponsel--hal yang akhir-akhir ini rutin saya lakukan, saya menemukan artikel yang cukup menarik di Shine on Yahoo!, dengan judul, Being the Grown-Up the Kid in You Always Wanted. Artikel itu menyebutkan bahwa usia 8 sampai 10 tahun merupakan usia dimana kita benar-benar menjadi diri kita yang sebenarnya, saat keinginan kita benar-benar murni dan tidak terpengaruh oleh pihak manapun, sebelum akhirnya sekolah membuat pemikiran kita menjadi 'terbentuk'.
Personally, I started daydreaming when I read the article. Apa yang saya lakukan sewaktu usia delapan tahun? Kalau dipikir itu adalah saat dimana kita menjadi "seorang anak dengan sebenar-benarnya", memang mungkin begitu. Cobalah sebentar memejamkan mata dan bayangkan kita sedang duduk semeja dengan diri kita yang berusia delapan tahun, makan siang bersama. Tanyakan, apa yang kita bayangkan sewaktu kecil dulu?
Usia delapan adalah masa-masa saya jadi anak androgini, alias nggak jelas perempuan atau laki-lakinya. Coba tengok, waktu kecil saya seneng banget keluyuran pakai sepeda, bareng-bareng teman lain sampai jadi satu gerombolan, geng sepeda (cie, nge-geng). Keliling komplek, kadang agak jauh sampai ke komplek sebelah, ketemu kelompok bersepeda lain dan tahu-tahu saja jadi balapan. Saya juga sempet kena wabah trend naruh balon kecil atau botol air mineral yang diiris, lalu diselipkan di ban. Jadi kalau sedang lewat, bret bret bret bret bret... gitu bunyinya. Berasa gaul deh. Ceritanya sepeda kami itu kendaraan mewah, mau Benz, BMW, atau Ferrari sekalian. Isi bensinnya pakai dedaunan di depan rumah tetangga.
Di depan rumah saya waktu itu ada pohon kersen (btw, masih banyak nggak sih pohon kersen jaman sekarang?), yang dahannya menjulur ke kali yang airnya (dulu mah) lumayan deras. Mudah ditebak, salah satu hobi saya adalah manjatin itu pohon. Sekalipun saya udah dilarang berkali-kali, toh saya tetep aja nekat naik, bahkan sering masih pakai seragam sekolah yang merah-putih itu. Dan Alhamdulillah, saya kapok manjat itu pohon setelah saya jatuh ke kali dengan sukses akibat salah nginjak cabang. Plus seragam pramuka saya robek, Subhanallah :)) Belum lagi hobi saya yang lain, misalnya nangkapin laba-laba untuk dipelihara (yang segede telapak tangan, dari pohon nangka!), nangkap katak, ular sawah, keong, nyebrang sawah demi lihat lokasi kebakaran (berasa gaul aja gitu, bisa lihat kebakaran live).
Oke, saya memang termasuk badung waktu kecil dulu. Sempet juga kabur dari rumah, huahahahaha. Tapi jangan khawatir, saya juga punya hobi... ngerjain latihan di buku pelajaran! Busyet! Rajin betul saya waktu itu. Mungkin karena jaman SD mah cetek, pelajarannya gampang, masih ketampung otak, pun otaknya masih kosong dan belum keisi macam-macam. Sepulang sekolah, apalagi kalau itu buku baru, bawaannya pengen cepet-cepet ngerjain. Walhasil, kalau ada PR, seringnya sih saya udah ngerjain. Terus, maju ngerjain yang lain, hehehe...
Sekarang, sepuluh tahun setelah itu--usia saya sekarang delapan belas. Saya udah nggak pernah lagi bersepeda keliling kompleks, sepedanya sudah diloak. Teman-teman se-geng saya waktu main sepeda itu udah pada mencar-mencar; ada yang bekerja, ada yang kuliah di luar kota, ada yang pindah dan hilang kontak. Pohon kersen itu sudah ditebang, digantikan tanaman semak pendek dan bunga-bungaan. Arus kali sekarang sedikit, airnya lebih sering hitam karena limbah pabrik. Pohon nangkanya sudah tidak ada, apalagi sawahnya. Sudah ditutup dan jadi komplek perumahan baru.
Tapi itu perubahan yang terjadi dari luar. Di dalam diri saya juga ternyata banyak terjadi perubahan. Saya nggak sempat lagi memperhatikan lingkungan rumah seperti apa, karena sudah terlanjur sibuk dengan kegiatan lain di luar. Trus, saya jadi takut ketinggian--mungkin gara-gara jatuh dari pohon dan sukses nyebur kali. Saya juga luar biasa serem sama serangga. Kalau ukurannya kecil nggak masalah, tapi kalau laba-laba besar, mendingan saya kabur. Apalagi kodok dan keong... bendera putih lah pokoknya mah. Trus, ini dia: Jadi malas! Sewaktu kecil kita bisa begitu rajin belajar, setiap hari mengerjakan latihan, tapi sekarang? Seminggu sebelum ujian akhir--eh, malahan sehari, mungkin--sibuk ngehafal materi pelajaran satu semester. Ya mana bisa masuk, bung. Herannya itu masih diulang aja.
Pernah merasa kangen nggak sama masa kecil yang berkilauan itu? Memang sih, usia saya masih delapan belas, belum selama orang-orang yang sudah lebih banyak pengalaman. Tapi rupanya, baru juga sepuluh tahun lewat, saya bisa juga kangen dengan masa-masa itu. Yah, mungkin masanya memang sudah berubah, cara hidup manusia bisa jadi juga sudah agak berbeda. Namun nggak ada salahnya juga kalau saya merasa kangen dan mencoba lagi hidup dengan "semangat waktu berusia delapan tahun" itu. Memandang dunia dengan polos, bermain-main, tidak terlalu cepat khawatir menghadapi sesuatu.
Yang menyenangkan? Saya yang berusia delapan tahun selalu bermimpi menjadi seorang pelukis, seniman, atau seorang desainer--malah ingin menjadi semuanya. Saya yang berusia delapan tahun sering menggambari kertas kerja, buku pelajarannya, dinding, bahkan Ibunya harus merelakan pintu dan garasinya dicat warna-warni dan mengadakan "pentas seni" di rumah. Jam makan siang telah berakhir, dan di akhir pertemuan saya yang berusia delapan tahun bertanya, "Apa yang sekarang kamu lakukan dalam hidupmu?"
Saya tersenyum, berkata saya masih meniti mimpinya dari usia delapan tahun itu, masih menggenggam impian yang sama dengan dia; ingin menjadi seniman dan desainer, dan saya sedang berada di jalan untuk mencapai keinginan itu. Dan saya berharap, sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, saya masih meniti mimpi yang sama dengan dia, sehingga bila nanti saya bertemu lagi, dia akan bangga pada saya, diri saya yang berusia delapan tahun itu, mungkin melompat-lompat bahagia karena ia masih menggenggam--atau malah, mencapai--mimpi yang sama dengannya.
btw, Arie tiba-tiba minta saran soal fesyen cowok. Hmm mungkin kalo dicoba bisa juga kali ye? ;))
now playing - 100 years (Five For Fighting)
IMAGE FROM CORBIS
XSVFVYDRNMXZ


Like this ♥ *kagak bisa ngomong apa-apa*
BalasHapusmukya :) kalau dibaca sepulug tahun lagi, gimana ya? ;DD
BalasHapuskeren...
BalasHapusaku suka
ya aku juga kadang ngerasa gitu
rasanya pen balik ke masa kanak²
yang dengan bebas kita mengekpresikan apa yang kita suka
^^
ada nupost
baca komen ya
ada awardnya juga lho
^^
@kak mega: jadi semakin ngerasa nostalgia Kak. Dan pasti langsung mikir begitu banyak hal yang sudah berubah. :)
BalasHapus@Akane
BalasHapusnah, itu dia. makin dewasa, kita makin peduli dengan kata-kata orang lain. dan kadang itu bisa mematikan diri kita yang sebenarnya :)
@Evey
delapan tahun aja udah berubah banyak. saya jadi ngebayangin, apa orangtua saya juga mikir seperti itu, ya? 8D
speechless, tapi bisa ngomen ko...
BalasHapus8 tahun, 10 tahun....jaman SD ya itu? hmm...saya masih jadi orang yang rajin banget, beda ama yang sekarang....ntah harus sedih ato bangga :D
nice posting~
@bang Okky
BalasHapusiye bang, kita masih muda waktu itu, belum kenal Ariel-Luna. :PP dan belum kotor, ngga sok idealis tapi bisa mengeluarkan pendapat sendiri. iya ga?
hehe, tengkyu gan ^^