Langsung ke konten utama

the next big thing




I want this book btw.


Sore ini hujan. Badan saya sakit semua, ngilu. Kepala pusing dan migrain. Badan juga lemes. Memutuskan untuk bolos kuliah dan membatalkan janji sama Dinda, dan saya memilih tidur aja. Untungnya Ayah saya ga nyuruh macem-macem, dan sekarang kondisi badan saya udah agak enakan. iTunes saya hari ini memutarkan Wrong Number yang dinyanyiin Dong Bang Shin Ki. Hmmm Korea-koreaan deh.

Ngga kerasa sebentar lagi udah mau penjurusan. Iya, akhirnya saya yang TPB ini akan segera dijuruskan ke program studi yang kira-kira diminati, dan cocok dengan kemampuan kita. Kemarin saya ditanyain sama Annya, soal minat prodi saya. Soalnya, minat itu akan menentukan pembagian panel buat pameran nanti. Bahkan udah rekapitulasi sementara dari angket peminat dan saya termasuk beberapa belas yang belum memberikan jawaban.

Yah boro-boro deh. Saya dan anak-anak lain langsung panik. Soalnya, terus terang kita semua masih ragu-ragu. Ada beberapa yang udah mantap; Lei mau masuk DKV, multimedia; Risa mau ke kriya tekstil, Dara dan Qiky mau masuk Desain Interior. Hera mau ke Desain Produk, Sandy ke Seni Lukis, dan Nay memantapkan diri ke Seni Grafis.

Kalau saya?


Coba aja, liat entri saya beberapa bulan yang lalu. kayaknya saya masih labil banget sama pengaruh orang lain (kalo di sini, asdos, hahaha). Dan dari kemaren-kemaren kelabilan saya tetep ga berubah, mau milih DKV atau Kriya Tekstil.

Duluuu, waktu Ibu saya masih hidup, dia bilang, nanti anaknya bakal kuliah di FSRD ITB (kejadian, meskipun awalnya saya mau membelot ke fikom atau sastra Inggris Unpad). Jurusannya, kalau ngga desain grafis (sekarang DKV) ya desain tekstil (sekarang ya itu, kriya tekstil). Rupanya bener-bener kejadian. Saya ngga tau ini emang sugesti dari Ibu saya atau gimana, yang pasti sekarang bener-bener ada di persimpangan jalan itu. Kriya tekstil atau DKV?

Waktu SMA saya demen banget browsing internet. Sampai sekarang juga gitu sih. Saya pengen jadi seorang web designer. Hobi abal itu pun diwujudkan lewat coba-coba aplikasi grafis dan ngotak-ngatik lembar CSS di livejournal saya yang banyak itu. Selain itu saya juga suka banget gambar. Bikin komik, pastinya. Dari SD saya suka bikin komik, yang baca temen-temen deket. Bermacam-macamlah. Sehingga saya berpikir untuk masuk DKV, ilustrasi, atau periklanan. Saya ga minat masuk multimedia.

Tapi anehnya, saya ga begitu suka majalah desain grafis semacam Concept atau Babyboss begitu. Saya benci Illustrator, saya benci Dreamweaver, flash, dan 3Dmax. Saya lebih suka baca Visual Arts, atau majalah-majalah fashion. Saya pikir ini karena saya cewek kali ya. Apalagi saya juga hobi ngalongin toko baju bekas dan masang-masangin baju. Kalau lagi gambar, sisi fashion manusia selalu saya perhatikan dengan teliti. Saya berangan-angan nanti masuk DKV lalu punya majalah sendiri--jadi editor in chief. Majalah wanita, tapinya! Dasar anak wartawan, ujung-ujungnya ke majalah juga.

Angket pertama, dengan mantap saya milih DKV. Pokoknya saya mau bikin website sendiri, terus mau kerja di majalah, jadi layouter dan illustrator, lalu berkembang lagi, pengen jadi fashion illustrator. Nah lho. Saya pengen kerja di majalah, majalah pokoknya. Oke, saya emang naksir berat kerjaan editor in chief. Angket kedua saya mulai labil (parah) deh. Saya masih inget ngisi angket, berkali-kali diubah, via ponsel pula, sambil direcokin si Lei dan Dara. Cahyo sama Aldy juga ngomong, kan udah pas, bokap lo udah usaha garmen, entar lo tinggal kembangin aja, bikin yang lo suka, jalannya udah disediain. Belum si Sandy yang tukang ngasih sugesti "Kriyaaaaaaaaaaaaaa..... Kriyaaaaaaaaaaaaa...."

Di saat terakhir angket saya tetap sama: Desain Komunikasi Visual - Kriya - Desain Interior - Desain Produk - Seni Murni.

Dari SD saya suka membayangkan punya merk, my own line, my fashion brand. Saya buat imagenya, pakaian-pakaiannya, masing-masing brand dengan ciri khas tersendiri. Saya memang sempet pengen jadi perancang busana, dan tadinya ga berminat kuliah--mau ambil sekolah fashion semacam Esmod atau LaSalle. Tapi biayanya selangit, dan bukan sarjana, butuh duit berapa? Selain itu, saya udah mulai kepincut sama program studi bernama DKV dan ga pede sama kemampuan saya menjahit dan bikin pola biarpun punya Ayah pengusaha garment. Pikir saya kalaupun ga bisa kerja langsung di bidang fashion, paling engga biarlah saya bikin majalah dengan banyak tulisan tentang fashion di dalamnya. I wanna be a fashion columnist and have my own art-fashion-related website!

Kalau dibaca ulang, ternyata intinya fashion, ya.

Semester dua pun makin berkembang. Teman-teman bilang saya lebih cocok masuk kriya dibandingkan DKV. Saya nggak pengen mengakui itu, sekaligus menyadari kalau coretan-coretan ilustrasi saya ga ada DKV-DKVnya, kayak punya Lei misalnya. Saya juga ga terlalu berminat dengan fotografi (justru adik saya yang sekarang mewek pengen dibeliin DSLR). Saya ga browsing tentang tipografi atau animasi, malahan fashion blog dan website style dot com. Saya memimpikan Indonesia, Bandung khususnya--suatu saat akan seperti Harajuku dan Shibuya; orang-orang bebas memakai statement fashionnya, tidak terpaku pada pakem gaya tertentu, dan desainer-desainer muda besar dari sana dengan merk-merk indie-nya.

Saya diskusi, tentu saja. Sampai Enay nanya, "Kamu pengen ke mana?"

"Kepikirannya sih akhir-akhir ini Kriya."

"Bukan kepikiran, kamu pengennya ke mana?"

I want to have my own art and fashion related website.... Nggak hanya itu. Saya pengen punya merk sendiri, brand sendiri, dikenal orang, punya butik khusus dan mengenalkannya lewat tulisan-tulisan saya dan ilustrasi saya di dunia maya. Saya pengen menjadikan nyata pakaian-pakaian yang selama ini saya gambar.

Hari Rabu saya telepon Ayah saya karena nggak berani ngomong langsung. Yah, tadi ada urusan buat paneling pameran penjurusan. Kalau teteh milih Kriya Tekstil, Gimana?

Ya udah, gak apa-apa. Terserah Teteh aja.

Kalau memang ini jalan yang benar, Ya Allah, mohon bukakan jalan saya... dan tetapkan saya di sana, buat agar saya bisa memantapkan pikiran, berkonsentrasi dan memusatkan diri pada jalan yang dipilih-Mu. Mudah-mudahan sampai nanti kemantapan hati saya masih di sana.

Bismillah.

iTunes saya sedang memutarkan This Way, lagu instrumental yang dimainkan Depapepe.


Komentar

  1. sure you can :)

    depape - this way, huh?

    I bet the universe are supporting your path right now.

    BalasHapus
  2. hmm. I hope so :)

    (tapi melihat mata kuliah yang aneh-aneh itu saya jadi pusiiing. yep let Him choose my path for me.)

    BalasHapus
  3. dulu aku juga pilih kriya tp udah lama bgt,hee^^ Smg pilihannya adalah yg terbaik y! smangat..

    BalasHapus
  4. huaaaaa! amin, kak :D doain yaaa, soalnya kadang saya masih ragu... hm, tapi kalau emang udah jalannya, InsyaAllah dilancarkan ya amin :)

    BalasHapus

Posting Komentar

do some talk, folks :)

Postingan populer dari blog ini

being single

Yak, topik cinta-cintaan kembali setelah sekian lama. Aih. Mentor saya, senior di kampus, baru-baru ini menikah. Selamat atas pernikahannya ya Teh Arindo, semoga bisa jadi keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah dan dikaruniai anak-anak yang terdepan dalam prestasi. :) Karena yang menikah ini teman kuliah, jadilah topik penggalauan kembali mewabah di lingkungan pergaulan saya. Jadi ingat. Kemarin saya naik angkot pulang, seperti biasa. Kalau naik angkot, lama perjalanannya bisa sekitar dua jam. Maklum Bandung coret. Seringnya sih saya tidur :P Di tengah perjalanan, angkot ngetem di depan sebuah SMP. Beberapa saat kemudian, naiklah empat orang anak SMP. Dari pembicaraannya, saya bisa tahu mereka masih kelas tujuh.  Ngobrolnya seru, khas anak cowok, saling ejek dan rebutan hape karena main game entahlah apa saya nggak tahu. Satu anak ada yang terlihat jangkung kurus, berkacamata, gayanya pecicilan, pokoknya ngeselin, tapi lucu. Intinya anak itu mengesalkan, tapi saya...

Saya Kangen Jatuh Cinta

Ingin jatuh cinta sama orang deh rasanya. Ngeceng orang salah. Lagi ngga ngeceng eh taunya galau juga. Hmmm. Saya kangen jatuh cinta. Bukan orangnya, karena kalo sekarang ditanya saya lagi jatuh cinta sama siapa, saya ga akan bisa jawab--karena sumpah, nggak tahu. Ditanya rang mati kutu bukannya ngga mau ngasih tahu, tapi karena emang ga ada =..= Yonghwa dan Seohyun. Dua orang ini kelewat manis sampe ngga tahan tiap nonton aaa.

10.10.10

TUMBLR . TWITTER . WEBSITE Pasar Seni ITB keSEPULUH. Tanggal SEPULUH bulan SEPULUH tahun duaribuSEPULUH. Hanya berlangsung SEPULUH jam saja!