Hmmm. Halo Ibu, apa kabar?
Kabar saya? (ah siapa juga yang nanya) baik kok. Adik-adik juga baik. Ayah juga oke. Berterima kasih sama ayah ya bu, soalnya Ayah udah gantiin peran Ibu juga dua tahun ini, hehe. Oh iya, saya akhirnya bisa kuliah di tempat yang dari dulu udah dipengenin. Yang dari dulu selalu Ibu tunjuk dengan semangat kalau kebetulan lewat pakai angkot ("Teh, nanti kuliahnya di FSRD ITB, ya!"). Ternyata doa Ibu itu bener-bener deh. Yaaa, karena Ibu nggak bisa lihat saya kuliah, saya bilang aja deh di sini. Bener deh, inget nggak bercandaan kita dulu, soal alamat e-mail antara dunia nyata dan alam barzakh. Seandainya saya bisa menghubungi Ibu lewat e-mail itu, mungkin Ibu bisa baca ya.
Tahu-tahu aja saya udah tua yah. Padahal kemarin-kemarin masih diceritain, katanya saya waktu lahir badannya kelewat kecil sampai semua orang kerepotan. Ah, dari lahir aja, saya udah banyaaaak sekali ngerepotin Ibu. Ya bu? Saya sebenernya pengen cerita banyaaaaaaaaaaak sekali. Udah dua tahun kita nggak cerita-cerita kayak dulu. Udah dua tahun kasur yang biasanya ditempati itu kosong. Biasanya kalau pulang sekolah tempat itu yang pertama saya datangi. Lalu kita cerita-cerita--eh, salah. Maksudnya, saya yang cerita-cerita, sampai akhirnya Ibu ngomel karena saya kebanyakan ngomong. Hihihi.
Yah, kadang Ibu nyebelin juga, sih. Suka tau-tau marah tanpa alasan yang jelas. Tahu-tahu ngomel, dan saya tahu, kalau Ibu ngomel, dua hari belum tentu omelannya selesai. Udah begitu, topik yang kemarin-kemarin udah ditutup, bisa tiba-tiba dibuka lagi. Pokoknya nyebeliiiin! Saya juga kadang bete kalo Ibu tau-tau sok nyelonong omongan saya gitu. Emang sih saya senang banget cerita apa saja ke Ibu, tapi bukan berarti Ibu boleh tahu semuanya kaaan? Hehehehe. Tapi justru itu yang ngangenin sih.
Tapi meskipun begitu, Ibu seperti bunglon. Ibu bisa jadi apa saja. Kalau saya sedih, Ibu bisa bicara sesuatu dan bikin saya ketawa lagi. Kalau saya seneng, Ibu adalah orang-orang pertama yang ikut senang merasakan kebahagiaan saya. Kalau saya bingung, Ibu adalah orang pertama yang saya minta tolong. Kalau saya salah, Ibu adalah orang-orang pertama yang mengingatkan (alias mengomeli) saya. Ibu adalah sahabat kalau saya pengen curhat, kalau saya bingung, kalo saya stres pelajaran, kalau saya dimarahin Ayah (nah loh), kalau saya abis patah hati.
Ibu, Ibu tahu nggak? ternyata, Ibu adalah figur tempat saya paling, paliiing bergantung. Lebih dari orang lain. Lebih dari siapapun yang pernah saya kenal di dunia. Dan saat saya kehilangan Ibu adalah saat saya kehilangan salah satu penopang.
Heran juga. Padahal saya juga bilang Ibu kolot. Cerewet, tukang ngomel, manja, nyebelin, dan sebagainya. Tapi Ibu juga hebat. Hebat banget. Yang semangatnya bener-bener harus saya tiru. Yang nggak pernah bosan denger saya cerita, bahkan kalau mungkin Ibu udah suntuk. Tapi Ibu mau denger, mau komentar. Meskipun yang ada mungkin saya cuma bikin ribut.
Ibu, terima kasih atas semua omelannya. Terima kasih sempat memberikan banyak hal pada saya. Terima kasih sudah mau mendengarkan semua cerita saya. Terima kasih telah menjadi orang yang terbaik dalam hidup saya. Terima kasih, karena Ibu tak pernah bosan memberikan cintanya kepada saya. Bahkan sampai sekarang, saat Ibu sudah nggak bisa lagi bertemu dengan saya secara fisik. Ada banyak kalimat terima kasih untuk Ibu, terlalu banyak dari segala yang terekam dalam enam belas tahun kehidupan saya. Dan saya nggak akan pernah bisa menyamainya. Bayangkan kalau sampai sekarang Ibu masih ada, ya?
Ibu, terima kasih atas semangatnya. Semangat yang nggak pernah habis sampai akhir. Semangat untuk tetap tersenyum bahkan waktu kanker itu akhirnya merenggut. Semua senyuman yang nggak pernah hilang kalau saya melakukan sesuatu yang baik. Terima kasih untuk mengerti saya di saat orang lain nggak mengerti. Ibu adalah orang paling kuat yang pernah saya kenal. Saya nggak yakin saya bisa sekuat Ibu waktu itu. Bahkan saya, yang sama sekali nggak mengalami apa yang Ibu rasakan--malah menangis. Meskipun sekuat tenaga saya tahan karena malu.
Ibu, maaf karena saya masih belum jadi anak yang baik. Maaf karena saya masih saja kurang ajar. Maaf karena saya nggak sempat memberikan apa-apa selama ini. Maaf karena saya pernah kesal, pernah marah sama Ibu. Maaf karena saya kadang nggak mengerti apa yang sedang dialami oleh Ibu dan malah memaksakan kehendak sendiri--padahal Ibu selalu mencoba mengerti apa yang sedang saya alami dan saya inginkan. Maaf karena saya pernah berbohong, saya pernah berkata kasar, bahkan pernah sampai bikin Ibu nangis. Saya benar-benar nggak bisa apa-apa. Maaf belum sempat membahagiakan Ibu secara benar, meskipun Ibu selalu bilang jadi anak yang baik sudah cukup buat Ibu.
Ibu, terima kasih sempat hadir dalam enam belas tahun kehidupan saya. Terima kasih karena merawat saya dengan baik, sehingga saya masih bisa hidup sampai sekarang. Terima kasih atas begitu banyak pelajaran hidupnya. Terima kasih pernah hadir dalam kehidupan saya, sampai sekarang--meskipun Ibu memang sudah tidak bisa saya sentuh, tapi ternyata cintamu yang selalu menyentuh saya, kami semua....
Selamat hari Ibu, Ibu. Semoga saya juga bisa jadi Ibu yang baik nanti, yang mencurahkan perhatian dan cintanya kepada anak dan keluarga sebesar apa yang Ibu berikan kepada saya :)


Komentar
Posting Komentar
do some talk, folks :)