Haihai, apa kabaaarrr. Dalam rangka menghindar-dari-kenyataan-bahwa-sebentar-lagi USM ITB, maka saya mencurahkan perhatian saya sama ngeblog (which means, blog saya nambah lagi. Ahahaihaihay, check this one if you're interested in animanga and asian entertainment things. :D), menulis berbagai postingan ga jelas, pergi kemana-mana, memendam diri di kamar, baca majalah, surfing internet jam dua pagi, dan sebagainya. Dan, seperti yang saya bilang kemarin, menggambar lagi dengan gaya yang biasa. Cuma belum di-inking nih. I'll show you after it finished, mmkay? :)) Dan juga menonton televisi sambil membantu adik saya mengerjakan peer (oh iya dong gw kan baek *ditabok*).
Tren pertelevisian memang berbeda dari tahun ke tahun. `Kalau dulu, zamannya Tersanjung dan Tersayang itu, theme song sinetron memang dibuat khusus untuk sinetron. Jadi, pasti ada ciri khasnya. Kayak lagu Tuyul dan Mbak Yul yang di syairnya ada "Tuyul-yul-yul-yul..." itu.
Ah, apa sih. Jadi ngaco.
Yang jelas, sekarang kebanyakan lagu hits dibuat jadi soundtrack sinetron. Atau lebih lagi, jadi judul sinetron. Banyak banget deh pokoknya. Biasanya lagunya baru-baru, lagi ngetren pas zamannya. Dan sebagainya. Tapi bukan itu sih yang pengen saya bahas, itu cuma buat intro aja (intro kok panjang amat).
Kemarin saya nonton televisi, dan tiba-tiba saja ada lagunya The Lucky Laki yang isinya anak-anak Ahmad Dhani itu, yang judulnya "Bukan Superman" kalau ga salah. Lupa saya juga. Ternyata, lagu itu (sudah) jadi theme song untuk sitkom yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta, yang judulnya sama juga. Yang jadi tokoh utamanya... aiapa yaaa, kurang begitu inget sama mukanya. Ari Wibowo-kah? Saya cuma inget sama setting dan ceritanya, tentang seorang superdad yang anaknya tiga--atau empat, lupa--yang masih kecil-kecil, bahkan ada yang kembar. Jadi, ceritanya berputar tentang kesibukan si ayah menangani anak-anaknya, karena dia single parent yang masih harus bekerja.
Ngomong-ngomong, melihat itu saya jadi pengen ketawa sendiri. tepatnya, saya udah ketawa dalam hati. Soalnya itu kok ayah saya banget sih.
Ayah saya adalah pria, empat puluh delapan tahun, ayah dari empat orang anak--dua laki-laki, dua perempuan. Yang harus digarisbawahi adalah dia seorang single parent, yang bekerja ganda, sebagai Ayah iya, bekerja juga, dan sebagainya, dan sebagainya. Sudah setahun lebih kayak begini. Dulu kalau nonton sinetron yang tokohnya single parent atau apa, saya suka mikir, pasti aneeeeeeeehhhh banget kalau misalnya keluarga tidak seimbang alias cuma ada Ibu doang atau ayah doang. Nyatanya saya mengalami juga.
Ternyata? biasa aja, sodara-sodara. Apaan sih, banyak juga kan yang lebih parah dari saya. Hehehehe. Saya masih harus lebih banyak bersyukur, ya kan?
Ayah saya memang orangnya keras dan ketat. Dia ketat soal jam malam, apalagi soal pergi-pergi. Kami anak-anaknya jarang bisa keluar dari pagi sampai malam kecuali kalau memang ada sekolah dan les. Ayah saya bukan tipe orang tua yang gemar mengajak anak-anaknya pergi jalan-jalan di akhir pekan, Ayah saya bukan tipe orangtua yang akan mengajak anak-anaknya weekend ke luar kota. Ayah saya adalah seorang workaholic; setidaknya itu yang saya lihat dari beliau. Kalau ada pekerjaan, pasti bakal langsung tenggelam sama pekerjaannya. Malah dengan sengaja menenggelamkan diri. Kelelep. Singkat cerita, ayah saya lebih suka bekerja dibanding main keluar dengan keluarga atau mengantar anaknya beli baju (cowok manapun kayaknya ga ada yang suka).
Ayah saya (cukup) galak. Berhubung tampangnya juga sangar, dengan kumis tebal ala pak raden dan dahinya yang lebaaarrr, dan hobi nakut-nakutin bayi, bayi tetangga aja takut sama dia. Kalau marah tentu saja bentak-bentakan, dan ayah saya ga suka rumah berisik. Mengapa? karena selain workaholic, ayah saya juga sleepaholic. Rekornya, beliau bisa tidur lebih dari dua puluh empat jam dalam satu waktu. Hebat. Ayah saya lebih memilih tidur sebagai kegiatan weekendnya. Makanya paling benci sama rumah berisik. Jarang mengajak jalan-jalan, tapi kalau anaknya mau jalan-jalan sendiri juga susah dapet izin. Rrrrrreeeepppoooottt. Dan yang gawat, kalau punya hobi, bisa keterlaluan, ga tanggung-tanggung. Bisa aja dia ngeluarin belasan juta cuma untuk tanaman. Atau ikan.
Beliau bukan orang yang gemar mengeluarkan kata-kata 'sayang' untuk anak-anaknya, atau memuji yang aneh-aneh. Orangnya plain, datar. Itu yang saya rasakan secara pribadi. Saya sudah tidak pernah digendong-gendong sejak usia lima tahun. Interaksi saya dengan ayah--kalau bukan karena terpaksa--hanya sedikit. Hanya berkisar minta uang saku, minta izin pergi, atau butuh uang untuk sesuatu. Tidak pernah memuji kalau saya mendapatkan suatu pencapaian yang bagus, dan memarahi saya kalau saya melakukan kesalahan. Intinya, saya nggak dekat dengan ayah, interaksi saya lebih-lebih-lebih dengan Ibu. Itu yang saya pikirkan saat ada Ibu. Ngomong-ngomong, saya juga selalu bilang ga mau punya suami yang kayak ayah, yang orangnya kaku. Tapi terjadilah, tinggal ada saya, Ayah, dan adik-adik saya. Dan beginilah kehidupan kami sekarang, kan.
Tapi Ayah saya pekerja keras. Yang saya ingat, beliau itu segalanya hanya untuk Ibu (bukan buat saya dan adik. Huwe.). Tidak pernah bertanya macam-macam, tidak meragukan pilihan saya dalam melanjutkan kuliah. Saya sempat takut saat bilang ingin masuk untuk desain atau jurnalistik karena teringat teman-teman yang dimarahi orang tuanya. Tapi saya tidak. Dan karena sifat ayah yang begitu juga, hubungan kami, anak-anaknya--dengan Ayah jadi terjadi secara frontal. Maksudnya, saya anteng-anteng aja ngegosipin beliau di depan orangnya (seperti "De, si ayah tuh ya, kenapaaaa sih pelit banget?" dan Ayah saya ada di hadapan saya, minum kopi).
Ayah saya tidak pernah memuji, tapi (katanya) suka memuji kami di depan teman-temannya. Ayah saya memang bukan pengusaha yang kaya raya, tapi dia selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidup kami. Saya tidak pernah ditanyai macam-macam kalau saya hendak meminta uang untuk keperluan sekolah dan sebagainya. Begitu juga soal rumah tangga, kalau ada kebutuhan rumah yang habis, saya tinggal bilang dan langsung ada. Jarang mendengar komentar beliau yang ngomel soal belanjaan yang mahal dan sebagainya. Ayah saya tidak susah soal makan, meskipun saya malassss banget ke dapur dan masak ga jelas, dimakan-dimakan aja.
Yah, dalam konteks tertentu, dia juga mungkin seorang superdad. Hmm. Meskipun dengan mukanya yang tambah keriput dan kepalanya yang terus menerus mengalami abrasi (baca: botak).
(Dan satu lagi: saya baru sadar kalau sifat saya banyak yang sama dengan beliau. Grrrrr. Ibu saya benar. Benar benar benar.)
Tren pertelevisian memang berbeda dari tahun ke tahun. `Kalau dulu, zamannya Tersanjung dan Tersayang itu, theme song sinetron memang dibuat khusus untuk sinetron. Jadi, pasti ada ciri khasnya. Kayak lagu Tuyul dan Mbak Yul yang di syairnya ada "Tuyul-yul-yul-yul..." itu.
Ah, apa sih. Jadi ngaco.
Yang jelas, sekarang kebanyakan lagu hits dibuat jadi soundtrack sinetron. Atau lebih lagi, jadi judul sinetron. Banyak banget deh pokoknya. Biasanya lagunya baru-baru, lagi ngetren pas zamannya. Dan sebagainya. Tapi bukan itu sih yang pengen saya bahas, itu cuma buat intro aja (intro kok panjang amat).
Kemarin saya nonton televisi, dan tiba-tiba saja ada lagunya The Lucky Laki yang isinya anak-anak Ahmad Dhani itu, yang judulnya "Bukan Superman" kalau ga salah. Lupa saya juga. Ternyata, lagu itu (sudah) jadi theme song untuk sitkom yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta, yang judulnya sama juga. Yang jadi tokoh utamanya... aiapa yaaa, kurang begitu inget sama mukanya. Ari Wibowo-kah? Saya cuma inget sama setting dan ceritanya, tentang seorang superdad yang anaknya tiga--atau empat, lupa--yang masih kecil-kecil, bahkan ada yang kembar. Jadi, ceritanya berputar tentang kesibukan si ayah menangani anak-anaknya, karena dia single parent yang masih harus bekerja.
Ngomong-ngomong, melihat itu saya jadi pengen ketawa sendiri. tepatnya, saya udah ketawa dalam hati. Soalnya itu kok ayah saya banget sih.
Ayah saya adalah pria, empat puluh delapan tahun, ayah dari empat orang anak--dua laki-laki, dua perempuan. Yang harus digarisbawahi adalah dia seorang single parent, yang bekerja ganda, sebagai Ayah iya, bekerja juga, dan sebagainya, dan sebagainya. Sudah setahun lebih kayak begini. Dulu kalau nonton sinetron yang tokohnya single parent atau apa, saya suka mikir, pasti aneeeeeeeehhhh banget kalau misalnya keluarga tidak seimbang alias cuma ada Ibu doang atau ayah doang. Nyatanya saya mengalami juga.
Ternyata? biasa aja, sodara-sodara. Apaan sih, banyak juga kan yang lebih parah dari saya. Hehehehe. Saya masih harus lebih banyak bersyukur, ya kan?
Ayah saya memang orangnya keras dan ketat. Dia ketat soal jam malam, apalagi soal pergi-pergi. Kami anak-anaknya jarang bisa keluar dari pagi sampai malam kecuali kalau memang ada sekolah dan les. Ayah saya bukan tipe orang tua yang gemar mengajak anak-anaknya pergi jalan-jalan di akhir pekan, Ayah saya bukan tipe orangtua yang akan mengajak anak-anaknya weekend ke luar kota. Ayah saya adalah seorang workaholic; setidaknya itu yang saya lihat dari beliau. Kalau ada pekerjaan, pasti bakal langsung tenggelam sama pekerjaannya. Malah dengan sengaja menenggelamkan diri. Kelelep. Singkat cerita, ayah saya lebih suka bekerja dibanding main keluar dengan keluarga atau mengantar anaknya beli baju (cowok manapun kayaknya ga ada yang suka).
Ayah saya (cukup) galak. Berhubung tampangnya juga sangar, dengan kumis tebal ala pak raden dan dahinya yang lebaaarrr, dan hobi nakut-nakutin bayi, bayi tetangga aja takut sama dia. Kalau marah tentu saja bentak-bentakan, dan ayah saya ga suka rumah berisik. Mengapa? karena selain workaholic, ayah saya juga sleepaholic. Rekornya, beliau bisa tidur lebih dari dua puluh empat jam dalam satu waktu. Hebat. Ayah saya lebih memilih tidur sebagai kegiatan weekendnya. Makanya paling benci sama rumah berisik. Jarang mengajak jalan-jalan, tapi kalau anaknya mau jalan-jalan sendiri juga susah dapet izin. Rrrrrreeeepppoooottt. Dan yang gawat, kalau punya hobi, bisa keterlaluan, ga tanggung-tanggung. Bisa aja dia ngeluarin belasan juta cuma untuk tanaman. Atau ikan.
Beliau bukan orang yang gemar mengeluarkan kata-kata 'sayang' untuk anak-anaknya, atau memuji yang aneh-aneh. Orangnya plain, datar. Itu yang saya rasakan secara pribadi. Saya sudah tidak pernah digendong-gendong sejak usia lima tahun. Interaksi saya dengan ayah--kalau bukan karena terpaksa--hanya sedikit. Hanya berkisar minta uang saku, minta izin pergi, atau butuh uang untuk sesuatu. Tidak pernah memuji kalau saya mendapatkan suatu pencapaian yang bagus, dan memarahi saya kalau saya melakukan kesalahan. Intinya, saya nggak dekat dengan ayah, interaksi saya lebih-lebih-lebih dengan Ibu. Itu yang saya pikirkan saat ada Ibu. Ngomong-ngomong, saya juga selalu bilang ga mau punya suami yang kayak ayah, yang orangnya kaku. Tapi terjadilah, tinggal ada saya, Ayah, dan adik-adik saya. Dan beginilah kehidupan kami sekarang, kan.
Tapi Ayah saya pekerja keras. Yang saya ingat, beliau itu segalanya hanya untuk Ibu (bukan buat saya dan adik. Huwe.). Tidak pernah bertanya macam-macam, tidak meragukan pilihan saya dalam melanjutkan kuliah. Saya sempat takut saat bilang ingin masuk untuk desain atau jurnalistik karena teringat teman-teman yang dimarahi orang tuanya. Tapi saya tidak. Dan karena sifat ayah yang begitu juga, hubungan kami, anak-anaknya--dengan Ayah jadi terjadi secara frontal. Maksudnya, saya anteng-anteng aja ngegosipin beliau di depan orangnya (seperti "De, si ayah tuh ya, kenapaaaa sih pelit banget?" dan Ayah saya ada di hadapan saya, minum kopi).
Ayah saya tidak pernah memuji, tapi (katanya) suka memuji kami di depan teman-temannya. Ayah saya memang bukan pengusaha yang kaya raya, tapi dia selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidup kami. Saya tidak pernah ditanyai macam-macam kalau saya hendak meminta uang untuk keperluan sekolah dan sebagainya. Begitu juga soal rumah tangga, kalau ada kebutuhan rumah yang habis, saya tinggal bilang dan langsung ada. Jarang mendengar komentar beliau yang ngomel soal belanjaan yang mahal dan sebagainya. Ayah saya tidak susah soal makan, meskipun saya malassss banget ke dapur dan masak ga jelas, dimakan-dimakan aja.
Yah, dalam konteks tertentu, dia juga mungkin seorang superdad. Hmm. Meskipun dengan mukanya yang tambah keriput dan kepalanya yang terus menerus mengalami abrasi (baca: botak).
(Dan satu lagi: saya baru sadar kalau sifat saya banyak yang sama dengan beliau. Grrrrr. Ibu saya benar. Benar benar benar.)
Komentar
Posting Komentar
do some talk, folks :)