Langsung ke konten utama

Why I Love Blogging (And Writing)

Ada juga untungnya saya dapet award dari Azumi ini. Saya jadi dipaksa untuk nulis. Karena ada rulesnya, hihihiiii... Oke, sekarang mari kita baca rules-nya!




the aims of this award:
-As a dedication for those who love blogging activity and love to encourage friendships through blogging
-To seek the reasons why we all love blogging!

Here are the rules of the award:
1. put the award in one post as soon as you receive it
2. Don't forget to mention the person who gives you the award
3. Answers the question of the award by writing the reason why you love blogging
4. Tag and distribute the award as many people as you like
5. Don't forget to notify the award receivers

Kedua award ini pertanyaannya sama, dasar ga kreatip... *dilempar duit*

Saya menulis blog dengan semangat volunteer, alis menyumbang sampah tulisan-tulisan saya yang masih amatir ke dalam jagat blogosphere. Haha. Tak ada niatan untuk mendulang uang dari kegiatan blogging ini. Bagi saya, blog itu semacam sanctuary. Kita bisa menulis apa saja. Karena rata-rata pembaca blog kita ditemui secara virtual, kita bisa lebih bebas mengungkapkan apa yang kita inginkan. saya bukan tipe orang yang bisa bebas mengungkapkan pikiran dalam mimbar informal (meskipun dalam forum diskusi panel ataupun debat, saya bisa jadi yang paling cerewet). Selain itu, saya merasa lebih enak saja kalau menulis lewat media blog seperti ini. Lebih 'kena', gitu. Sekaligus mengasah diri juga, kan. Anehnya, saya lancar kalau menulis blog. Lain dengan tulisan berbau 'komersil'. Yang ingin saya masukkan ke lomba atau media cetak, misalnya. mungkin karena blog ini media berekspresi bebas dan tidak terikat, saya jadi merasa lebih lega--mungkin ya. Kalau lomba dan yang lainnya, ada aturan dan secara tidak langsung (mungkin) itu membuat saya jadi malas.

Saya memang punya keinginan bisa menerbitkan tulisan saya untuk khalayak ramai. Ibu saya--almarhumah--seorang wartawan. --wati, maksudnya. Kadang saya dan Ibu saya sering mengobrol akan jadi apa saya nanti di masa depan. Dan saya dengan jelas menolak kalau nanti saya jadi wartawan. Sebagai anak reporter surat kabar propinsi dan kota, saya lumayan berpengalaman dengan jam kerja Ibu saya yang kayak kalong. Mesti fleksibel. Kapan aja mesti siap meliput. Kalau ditanya mengapa saya tidak mau, dengan enteng saya akan jawab, 'kasian anak'. Waktu itu, saya dan Ibu saya cuma ketawa. Ibu saya sendiri menyerahkan pilihan bebas ke tangan saya.

Yah, tapi dasar karma, ujungnya saya seneng dunia tulis-menulis aja. Tanpa sadar saya makin sering menyisihkan waktu saya untuk menulis. Terlebih setelah saya mencoba memublikasikan tulisan saya via situs internet--yang awalnya iseng-iseng aja. Saya jadi sueneng. Ketagihan menulis. Apalagi setelah ternyata ada banyak yang mengapresiasi. Jadilah saya jatuh cinta. Ga bisa berhenti. Dan tumbuhlah keinginan untuk jadi reporter atau kolumnis majalah suatu saat nanti. Yah, empat-lima tahun lagi deh. Waks.

Akhirnya tercebur juga saya. Hihihi...

Blogging juga menjadi suatu alasan mengapa saya jadi tertarik menulis. Saya senang menulis dan lebih senang lagi kalau tulisan saya dinikmati semua orang. Karena itu, saya menganggap blog saya juga menjadi media pembelajaran saya... sekedar mengasah kemampuan dan pembiasaan untuk menulis. Supaya saya juga bisa lancar saat bekerja sebagai jurnalis nanti (amin.). Dan plusnya? ya, jadi banyak teman. Di dunia maya. Link saya lumayan banyak--dan ini juga yang membuat saya betah berlama-lama di depan komputer (ketawa).

Oh, satu kalimat terakhir sebelum saya mentag orang-orang yang menderita beruntung: "Buah ga akan jatuh jauh dari pohonnya... beneran!"

I tag:

1. Madam
2. Tasya
3. Salma
4. Vera
5. ...dll? ;p

dan saya bakal ketawa sendiri kalau ingat obrolan saya sama Ibu saya waktu itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

being single

Yak, topik cinta-cintaan kembali setelah sekian lama. Aih. Mentor saya, senior di kampus, baru-baru ini menikah. Selamat atas pernikahannya ya Teh Arindo, semoga bisa jadi keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah dan dikaruniai anak-anak yang terdepan dalam prestasi. :) Karena yang menikah ini teman kuliah, jadilah topik penggalauan kembali mewabah di lingkungan pergaulan saya. Jadi ingat. Kemarin saya naik angkot pulang, seperti biasa. Kalau naik angkot, lama perjalanannya bisa sekitar dua jam. Maklum Bandung coret. Seringnya sih saya tidur :P Di tengah perjalanan, angkot ngetem di depan sebuah SMP. Beberapa saat kemudian, naiklah empat orang anak SMP. Dari pembicaraannya, saya bisa tahu mereka masih kelas tujuh.  Ngobrolnya seru, khas anak cowok, saling ejek dan rebutan hape karena main game entahlah apa saya nggak tahu. Satu anak ada yang terlihat jangkung kurus, berkacamata, gayanya pecicilan, pokoknya ngeselin, tapi lucu. Intinya anak itu mengesalkan, tapi saya...

Saya Kangen Jatuh Cinta

Ingin jatuh cinta sama orang deh rasanya. Ngeceng orang salah. Lagi ngga ngeceng eh taunya galau juga. Hmmm. Saya kangen jatuh cinta. Bukan orangnya, karena kalo sekarang ditanya saya lagi jatuh cinta sama siapa, saya ga akan bisa jawab--karena sumpah, nggak tahu. Ditanya rang mati kutu bukannya ngga mau ngasih tahu, tapi karena emang ga ada =..= Yonghwa dan Seohyun. Dua orang ini kelewat manis sampe ngga tahan tiap nonton aaa.

10.10.10

TUMBLR . TWITTER . WEBSITE Pasar Seni ITB keSEPULUH. Tanggal SEPULUH bulan SEPULUH tahun duaribuSEPULUH. Hanya berlangsung SEPULUH jam saja!