Langsung ke konten utama

Dulu, Saya Sempat Bersama Mereka :)




Hayooo! Siapa yang mau tahu saya tinggal di mana?

*siiiiiiing* *krik-krik*

….
….
….
*pundung*

Sebodo ah. Pokoknya saya mau cerita! Hehe. Saya tinggal di Bandung timur—di sebuah komplek perumahan yang, kalaupun disebut komplek, kurang tepat. Rasanya lebih tepat disebut “Kampung yang rapi”. Mengapa? Well, karena komplek perumahan saya ini padat penduduknya, dan developernya termasuk developer kemaruk sehingga tiap inci tanah dibikin rumah. Rumah di sini kecil-kecil, paling gede Cuma tipe 70-an—alias tujuh kali sepuluh. Kecil banget kan? Oh, jalannya juga sempit-sempit—maksimum dua jalur mobil. Malahan ada yang cuma bisa satu arah. Jadi, di sana-sini banyak rambu-rambu jalan. Malahan yang paling gila itu: ada rambu bertuliskan “Kecepatan maksimum lima km/jam”. Gila! Mau selambat apa tuh? Percuma pake kendaraan bermotor, mending pakai sepeda aja!

Mengenai jalan yang sempit ini, temen saya yang suka saya tebengin suka stres. Maklum, dia nyetir mobil, yang notabene ukurannya lebih besar daripada motor (ya iyalah) dan makan tempat. Dia suka rikuh karena banyak anak kecil lalu-lalang, banyak tukang dagangan—tapi jalannya sempit, hehe. Nggak sampai jadi gang seribu punten, sih (tiap jalan mesti bilang ‘punten’ melulu karena sempit, hohoho), Cuma yaa sempit aja. Kalau lewat jalan utama, paalagi sore-sore, banyak anak kecil yang lewat. Penuuuhhh... hihihi.

Tapi itulah poin plus dari komplek saya. Karena jarak yang serba berdempetan itu, kami jadi dekat. Kirim-kiriman makanan sudah biasa, malah kalau antar-tetangga sudah sebegitu kenal, bisa aja waktu kita masak di dapur, ada tante tetangga nongol, minta nasi! (diangkat dari kisah nyata, hihi...). Kalau ada musibah, semuanya rame-rame nengokin sampe malahan jadi ngerepotin yang punya rumah. Pernah waktu Ibu saya baru pulang dari Rumah Sakit, pada nengok dan rumah saya yang kecil itu dipadati lebih dari tiga puluh orang. Ini nengokin apa hajatan? Hahaha... udah gitu, mending kalo Ibu saya sakitnya Cuma sekali. Ini mah berkali-kali, jadi rumah saya sering banget dipadati manusia. Sandal-sandal berantakan di garasi. Huahahaha.

Memang sih, kadang suka malu juga sama temen-temen saya, yang tinggalnya di komplek elit, mewah, blablabla, dengan rumah segede-gede babon, tapi toh saya senang tinggal di perumahan ini. Dulu, saat usia lima tahun sempat pindah ke luar kota, tapi keluarga saya balik lagi. Ke komplek yang sama. Ke rumah yang sama. Hihi... udah kadung cinta sama komplek ini soalnya.

Jadi ingat. Dulu, di depan rumah saya, ada pasangan suami isteri, kakek dan nenek. Mereka baiiik sekali. Orangtua saya dua-duanya bekerja, dan dua-duanya kalau pulang larut malam—malahan sampai pagi. Kedua kakek dan nenek saya, baik dari pihak ibu maupun ayah, sama-sama jauh. Jadilah, mereka bertindak sebagai pengganti kakek dan nenek. Saya juga manggilnya Kakek dan Nenek, kok. Malahan, adik cowok saya suka nginap di sana kalau lagi kepingin. Nenek punya banyak permen, cokelat, dan kue yang nggak habis-habis. Beneran. Masuk ke sana seperti masuk gudang makanan, karena selalu ada makanan buat saya dan adik-adik saya—yang selalu ditinggal orang tua.

Nenek itu orang yang baik banget. Orangnya gemuk, kakinya mungil—sehingga kalau berjalan harus dibantu Kakek. Pintar sekali masak. Tiap pagi, waktu Ibu saya siap-siap ke kantor, pasti Nenek datang bawa masakannya yang masih panas. Kalau siang-siang, beliau duduk di terasnya, ngajakin anak-anak ke rumahnya. Buat apa? Buat diberi makanan, dong. Di sana ada pohon mangga dan rambutan. Siapa saja boleh ambil—malahan kalau saya lagi di rumah, saya suka dipanggil, diajakin ngerujak. Hihi. Nenek suka cerita tentang pekerjaannya dulu. Dulu beliau itu penyanyi Cianjuran. Tahu penyanyi Cianjuran? Itu, lagu tradisional sunda. Lalu, beliau menjadi perias pengantin, suka mendandani pengantin sampai kemana-mana. Malahan Nenek suka bilang, nanti pengen ngedandanin kalau saya nikahan. Hohoho...

Kalau Kakek, kebalikannya. Biarpun sudah tua tujuh puluh tahunan, badannya masih tegap, masih segar. Setiap pagi suka naik sepeda. Dulu waktu masih kecil, saya suka dibonceng naik sepeda Kakek. Tugasnya setiap hari belanja. Terus, Nenek yang masak. Beliau purnawirawan ABRI, nggak heran kalau badannya tegap dan sehat begitu. Kakek juga wawasannya luas. Meskipun beliau tidak pernah kuliah, tapi pengetahuannya tidak kalah dengan yang sudah sarjana seperti Ayah dan Ibu saya. Malahan kalau debat, mereka suka kalah, ehhehehe, beneran loh. Kakek juga seorang penulis dan penerjemah. Beliau sudah mengeluarkan beberapa novel dan saya punya salah satu di antaranya, diberi oleh beliau. Koleksi ensiklopedinya juga banyak dan saya diberi sebagian.

Mereka berdua lahir di sekitar tahun 1920-an. Zaman perang. Sewaktu zaman perang dan revolusi, mereka berdua sempat menjadi seniman, lho! Saat Nenek menjadi penyanyi, Kakek-lah yang menjadi pemimpin rombongan Orkes Degung yang menjadi pengiring Nenek. Ayah saya, yang juga punya background kesenian sunda tradisional tentu cocok dnegan mereka. Kakek dan Nenek suka cerita, dulu mereka pergi kemana-mana, keliling Jawa. Nenek jadi sindennya. Dan yang bikin saya kaget lagi—Kaget banget, malah—seluruh perangkat degung alias gamelan itu dibuat oleh Kakek sendiri, sewaktu perang. Beliau menempa sendiri, mengukir sendiri, dan mencocokkan nada sendiri. HEBAT BANGET! Saya dan teman-teman suka diajari di rumahnya. Dengan sendirinya, mereka berdua juga membantu melestarikan budaya tradisional. Iya, toh? Saya suka diceritakan lagu-lagu Cianjuran dan artinya. Lagu-lagu tersebut, yang kalau didengar sepertinya Cuma bikin ngantuk saja, ternyata memiliki arti yang mendalam, lho.

Oh ya, mereka juga aktif dalam kegiatan sosial. Malahan, Kakek dan Nenek sempat diundang ke Istana Negara untuk menerima penghargaan dari Presiden—waktu itu Presiden Soeharto, sebagai pendonor darah terbanyak. Di ruang tengah mereka, terpajang dua buah foto. Yang satu foto berwarnanya, dan satu lagi potongan foto besar dari headline koran. Di rumahnya juga banyak piala dari berbagai macam lomba. Kadang saya suka mikir, mereka ini kok segala bisa ya??

Pokoknya, saking dekatnya, kalau pas saya ke sana lagi ada tamu, mereka pasti mengenalkan, saya ini cucu mereka. Senang sekali. Kalau tidur siang di sana, makan malam juga kadang di sana. Kalau misalnya telepon ke rumah mati, orang tua telepon ke sana. Pokoknya , itu masa-masa yang menyenangkan. Anak-anak Kakek dan Nenek juga baik. Cucunya juga—mereka lebih tua hampir sepuluh tahun dari saya, jadi mereka menganggap saya seperti adiknya sendiri. Kalau mereka datang, saya suka diajak jalan-jalan dan dibelikan buku. Hihi. Waktu Ibu saya mulai sakit, mereka juga yang selalu menengok. Pun saat adik bungsu saya lahir—dan harus dioperasi, mereka juga selalu membesarkan hati Ibu saya.

Saya bangga sekali pada mereka. Saya tumbuh dan juga besar dalam didikan mereka juga. Ada banyak nasihat-nasihat mereka yang tak terlupakan sampai hari ini. Sudah empat tahun mereka berdua wafat. Nenek lebih dulu, baru setahun kemudian Kakek menyusul. Saya ingat, dulu saat Nenek meninggal, Kakek bilang “Kalau pasangan hidup sudah meninggal, pasti pasangannya juga akan segera menyusul.” Kalau menurut Ibu, mungkin mereka berdua juga sudah tidak ada beban. Keduanya meninggal dunia dengan tenang, sekalipun terpisah.

Mungkin membaca cerita saya di atas, seperti potongan novel yang amat didramatisir. Tapi memang begitulah kenyataannya. Saya pernah, pernah memiliki Kakek dan Nenek yang sangat hebat, dan semua itu bermula dari tetangga. Coba, bagaimana kalau kami tidak pernah bertetangga. Mungkin saya tidak akan pernah kenal mereka. Saya tidak akan mengenal Kakek yang penulis hebat. Saya tidak akan pernah merasakan masakan Nenek yang enak, ataupun diajari bermain degung Sunda oleh mereka. Semua itu sangat berharga dan menjadi pengalaman hidup juga.

Semoga kalau saya besar nanti, sudah punya rumah sendiri, saya juga punya Orang tua angkat seperti mereka. Sebaik mereka. Mereka ada sampai saya berusia tiga belas tahun, dan banyak memberikan saya nasihat. Tidak hanya kepada saya, tapi juga pada Ibu, Ayah, adik-adik saya. Semua orang di Jalan Rumah saya juga sayang pada mereka. Semua memanggil Kakek dan Nenek. Semua menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Wah... saya jadi kangen sekali sama mereka. Sama orang-orang yang saya sayangi, yang telah meninggalkan kami semua, kembali menghadap-Nya.


Nenek, Kakek, apa kabar? Ketemu sama Ibu, nggak? Selamat kangen-kangenan ya :)

Komentar

  1. Waah, terharu banget. Pasti teteh, keluarga teteh dan tetangga lainnya seneng banget bisa punya tetangga sebaik dan sehebat Kakek dan Nenek.. Tp sayang beliau udah ga ada. Pasti jadi sepi ya? Hiks.. Senengnya masa2 bertetangga (?), coba saya di Riung, eh tp gapapa, di GBI juga ampir mirip2 sama di Riung. Suka botram juga tuh sama tetangga =p
    Hehe..
    Moga Kakek dan Nenek bahagia di alam sana, ya? Hihi..

    BalasHapus
  2. Iyah, aku juga jadi ngiri.
    Rumah sayah autis sih, ga punya tetangga. Komplek rumahku juga dingin begitu.

    Tapi ceritanya romantis sekali.
    Mereka sangat menikmati hidup. Pasti bahagia sekali bisa menikmati masa senja dikelilingi orang2 yg mereka sayang dan sayang mereka sampe akhir hayatnya.

    BalasHapus
  3. @Peyoo
    iya, iya. pastinya begitu. GBI dan riung kan mirip-mirip, hehehe.. Tapi asyik kan, sempit-sempitan juga? XD
    .
    @irishdamselflies
    dududududududu... -masupin lagu melankolis di sini- tepat. dan seperti yang saya bilang, itulah asyiknya tinggal di komplek sempit. hehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar

do some talk, folks :)

Postingan populer dari blog ini

being single

Yak, topik cinta-cintaan kembali setelah sekian lama. Aih. Mentor saya, senior di kampus, baru-baru ini menikah. Selamat atas pernikahannya ya Teh Arindo, semoga bisa jadi keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah dan dikaruniai anak-anak yang terdepan dalam prestasi. :) Karena yang menikah ini teman kuliah, jadilah topik penggalauan kembali mewabah di lingkungan pergaulan saya. Jadi ingat. Kemarin saya naik angkot pulang, seperti biasa. Kalau naik angkot, lama perjalanannya bisa sekitar dua jam. Maklum Bandung coret. Seringnya sih saya tidur :P Di tengah perjalanan, angkot ngetem di depan sebuah SMP. Beberapa saat kemudian, naiklah empat orang anak SMP. Dari pembicaraannya, saya bisa tahu mereka masih kelas tujuh.  Ngobrolnya seru, khas anak cowok, saling ejek dan rebutan hape karena main game entahlah apa saya nggak tahu. Satu anak ada yang terlihat jangkung kurus, berkacamata, gayanya pecicilan, pokoknya ngeselin, tapi lucu. Intinya anak itu mengesalkan, tapi saya...

Saya Kangen Jatuh Cinta

Ingin jatuh cinta sama orang deh rasanya. Ngeceng orang salah. Lagi ngga ngeceng eh taunya galau juga. Hmmm. Saya kangen jatuh cinta. Bukan orangnya, karena kalo sekarang ditanya saya lagi jatuh cinta sama siapa, saya ga akan bisa jawab--karena sumpah, nggak tahu. Ditanya rang mati kutu bukannya ngga mau ngasih tahu, tapi karena emang ga ada =..= Yonghwa dan Seohyun. Dua orang ini kelewat manis sampe ngga tahan tiap nonton aaa.

10.10.10

TUMBLR . TWITTER . WEBSITE Pasar Seni ITB keSEPULUH. Tanggal SEPULUH bulan SEPULUH tahun duaribuSEPULUH. Hanya berlangsung SEPULUH jam saja!